Berita Utama

Brokohan Pancasila, Blitar Rayakan Hari Lahir Pancasila dengan Tradisi dan Kirab Budaya

166
×

Brokohan Pancasila, Blitar Rayakan Hari Lahir Pancasila dengan Tradisi dan Kirab Budaya

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, BLITAR — Peringatan Hari Lahir Pancasila di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahad, 1 Juni 2025, diwarnai kirab budaya dan tradisi brokohan sebagai bentuk penghormatan terhadap dasar negara.

Acara dimulai dengan Kirab Pancasila dari Gedung DPRD Kabupaten Blitar menuju Pendopo Bupati di Kanigoro.

Kirab menampilkan lambang-lambang Pancasila yang diarak bersama pertunjukan seni tradisional.

Salah satu agenda utama adalah Brokohan Pancasila, sebuah tradisi kenduri yang diangkat dari budaya Jawa sebagai wujud syukur atas lahirnya Pancasila.

Dalam tradisi Jawa, brokohan biasanya dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi. Pemerintah Kabupaten Blitar mengadopsi simbolisme ini untuk memaknai Pancasila sebagai fondasi bangsa yang harus dirawat dan disyukuri.

“Pancasila ini ibarat bayi yang baru lahir dan perlu diselamati,” ujar Bupati Blitar, Rijanto, dalam sambutannya di hadapan tamu undangan dan masyarakat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada para seniman dan budayawan yang terlibat dalam acara tersebut.

“Seniman Blitar luar biasa. Mereka berhasil menjadikan acara ini penuh semangat dan sangat berkesan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Ratna Dewi Nirwana Sari, menyebut Brokohan Pancasila sebagai pengalaman baru yang sarat nilai persatuan.

“Saya sangat merasakan semangat gotong royong, kebersamaan, serta kekayaan budaya yang ditampilkan,” katanya.

Ratna juga mengajak masyarakat menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum refleksi atas perjuangan pendiri bangsa, khususnya Bung Karno.

“Nilai-nilai Pancasila adalah perekat bangsa di tengah keberagaman,” ujarnya.

Ketua Panitia, Tugas Nanggolo Yudo Dili Prasetiono atau Bagas, berharap kegiatan tersebut mendapat dukungan anggaran daerah tahun depan.

“Semoga Brokohan Pancasila bisa masuk APBD dan digelar rutin setiap tahun,” katanya.

Rangkaian acara ditutup dengan kenduri bersama. Masyarakat duduk dalam satu meja panjang, menyantap makanan tradisional sambil memanjatkan doa bersama.

Momen ini menjadi simbol kebersamaan dan harapan agar nilai-nilai Pancasila tetap hidup di tengah masyarakat.(Didik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *