Uncategorized

Budaya Melayu Menyatukan Serumpun di Medan

430
×

Budaya Melayu Menyatukan Serumpun di Medan

Sebarkan artikel ini

Gemes 2025 Dibuka, Wali Kota Rico Waas Tampilkan Semangat Melayu dalam Diplomasi Budaya

TERITORIAL24.COM, MEDAN — Hujan yang mengguyur Kota Medan tak menyurutkan semangat ratusan tamu dan seniman budaya yang memadati halaman Istana Maimun, Rabu malam, 21 Mei 2025.

Di bawah langit yang basah, tabuhan gendang mengalun memulai pembukaan Gelar Melayu Serumpun (Gemes) ke-8.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, memukul gendang zapin—sebuah simbol pengakuan atas budaya yang tak hanya diwarisi, tapi juga dihidupi.

Event budaya ini bukan sekadar agenda tahunan. Gemes, yang kini menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI, telah menjelma panggung diplomasi budaya. Dengan 29 delegasi dari dalam dan luar negeri, termasuk dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan India, Medan menegaskan posisinya sebagai simpul peradaban Melayu di Asia Tenggara.

“Budaya bisa menjadi wajah kita di mata dunia,” ujar Rico dalam sambutannya. “Saya mungkin tidak lahir sebagai Melayu, tapi saya merasa berjiwa Melayu.”

Baginya, budaya bukan hanya identitas etnis, melainkan napas hidup yang hadir dalam pantun, gurindam, zapin, dan syair.

Gemes 2025 dihelat selama empat hari, dan dihadiri para tokoh penting: dari Sultan Deli XIV, Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, hingga perwakilan Kementerian Pariwisata dan Konjen negara sahabat.

Bagi Rico, Istana Maimun bukan sekadar latar belakang estetis, tetapi juga simbol kejayaan dan kontinuitas warisan Melayu yang harus dipromosikan sebagai bagian dari strategi kota.

“Jika ingin diperhatikan dunia, kita harus menonjolkan kebudayaan kita. Ini adalah bentuk soft diplomacy,” katanya.

Ia pun menegaskan bahwa Melayu tak boleh menjadi objek yang dikaji, melainkan subjek yang bicara—berdaya, kuat, dan menjadi jantung identitas Kota Medan.

Sementara itu, Dr. Ngatemin dari Poltekpar Medan, mewakili Menteri Pariwisata RI, menyampaikan apresiasi terhadap Pemerintah Kota Medan karena Gemes kembali masuk dalam KEN.

Ia berharap kegiatan ini memperkuat ekonomi kreatif dan mendongkrak kunjungan wisata.

Sultan Deli XIV, dalam pernyataannya, menegaskan pentingnya pelestarian budaya Melayu bagi generasi muda. “Semoga acara ini menjadi momentum memperteguh jati diri bangsa Melayu yang menjunjung adat, ilmu, dan kemuliaan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *