TERITORIAL24.COM-Di dunia yang sering mengukur kesuksesan dari jumlah digit di saldo bank, kita sering lupa bahwa harta hanyalah angka yang mati jika tidak dikelola menjadi manfaat.
Jauh sebelum istilah Corporate Social Responsibility (CSR) atau Social Enterprise menjadi tren di Silicon Valley, sebuah revolusi ekonomi telah lahir dari tangan para sahabat Nabi Muhammad SAW.
Mereka bukan sekadar orang kaya; mereka adalah arsitek peradaban. Bagi mereka, menjadi kaya adalah kewajiban agar tangan di atas bisa lebih kuat menarik tangan-tangan yang di bawah.
Mari kita bedah strategi “Capitalism with Soul” yang dipraktikkan oleh para sahabat.
1. Strategi Wakaf Produktif Utsman bin Affan
Solusi Infrastruktur untuk Krisis Air Bersih
Kisah yang paling melegenda adalah saat Madinah dilanda kekeringan hebat. Satu-satunya sumber air, Sumur Rumath, dimonopoli oleh seorang pedagang yang menjual air dengan harga selangit.
Rakyat menderita, dan ekonomi tersendat karena kebutuhan dasar menjadi barang mewah.
Utsman tidak sekadar memberi sumbangan uang kepada rakyat. Ia melakukan akuisisi strategis.
Ia membeli sumur itu dan menggratiskan airnya untuk semua orang.
Hebatnya, tanah di sekitar sumur itu kemudian dikelola menjadi perkebunan kurma yang hasilnya terus disedekahkan hingga saat ini,lebih dari 1.400 tahun kemudian.
2. Mentalitas Kemandirian Abdurrahman bin Auf
Membangun Ekosistem Pasar yang Inklusif
Jika ada tokoh yang paling mengerti konsep market creation, dialah Abdurrahman bin Auf.
Saat hijrah ke Madinah tanpa membawa harta, ia menolak bantuan cuma-cuma dan hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.
Beliau bukan tipe pengusaha yang menimbun barang demi kenaikan harga. Sebaliknya, beliau sering memborong barang dagangan kafilah besar untuk memastikan distribusi barang di pasar Madinah tetap stabil.
Baginya, martabat manusia ada pada kemandirian ekonomi. Kekayaan baginya hanyalah “titipan” yang harus segera diputar untuk kemaslahatan umat.
3. Support System Total Khadijah binti Khuwailid












