Daerah

Bukan Sekadar Resmikan Gedung, Dindik Jatim Tanamkan Budaya Bebas Plastik di SMKN 1 Tulungagung

24
×

Bukan Sekadar Resmikan Gedung, Dindik Jatim Tanamkan Budaya Bebas Plastik di SMKN 1 Tulungagung

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, TULUNGAGUNG – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memanfaatkan momentum revitalisasi besar-besaran di SMKN 1 Tulungagung untuk menanamkan budaya peduli lingkungan kepada para siswa.

Di tengah kunjungan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kamis (14/5/2026), perhatian tidak hanya tertuju pada peresmian fasilitas baru sekolah, tetapi juga pada aksi nyata pengurangan sampah plastik di lingkungan pendidikan vokasi.

Revitalisasi sekolah dengan dukungan anggaran miliaran rupiah itu menjadi simbol modernisasi pendidikan vokasi di kawasan Mataraman.

Namun, di sela agenda resmi, jajaran Dindik Jatim justru menghadirkan gerakan sederhana yang sarat makna: membagikan tumbler kepada siswa di area praktik pertanian, peternakan, dan perikanan.

Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Tulungagung–Trenggalek, Dian Pemilu Sari.

Mereka turun langsung ke lahan praktik siswa untuk mengampanyekan pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai.

Menurut Dian Pemilu Sari, modernisasi fasilitas sekolah harus dibarengi dengan kesadaran menjaga lingkungan, terutama di area produksi pangan yang menjadi pusat pembelajaran siswa.

“Gedung kita boleh modern, tapi kalau lahan pertanian dan kolam ikannya tercemar mikroplastik, produk pangan yang dihasilkan siswa tidak akan higienis. Pembagian tumbler ini adalah edukasi langsung. Kita ingin memutus ketergantungan anak-anak pada plastik sekali pakai justru dari tempat mereka belajar memproduksi pangan,” ujarnya.

Ia menegaskan, area praktik luar ruangan selama ini rentan menjadi lokasi penumpukan sampah botol plastik akibat aktivitas siswa yang padat.

Karena itu, penggunaan tumbler dinilai sebagai langkah kecil yang bisa memberi dampak besar bagi kebersihan lingkungan sekolah.

Senada dengan itu, Aries Agung Paewai menilai pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi vokasi. Menurutnya, program ketahanan pangan sekolah tidak akan bermakna jika peserta didik tidak memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *