TERITORIAL24.COM, JAKARTA – Program Sekolah Rakyat Kementerian Sosial (Kemensos) yang digagas oleh Menteri Sosial Gus Ipul menuai kritik keras dari berbagai kalangan,kamis(11/9/2025).
Program dengan anggaran fantastis itu dinilai gagal total, bahkan dianggap berpotensi merugikan keuangan negara.
Pada tahun 2025, tercatat anggaran Sekolah Rakyat mencapai Rp7 triliun. Ironisnya, jumlah tersebut diproyeksikan melonjak tajam hingga Rp24,9 triliun di tahun 2026.
Sayangnya, meski sudah menelan anggaran besar, banyak siswa dan guru yang justru mengundurkan diri dari program tersebut.
Kondisi ini membuat publik heran, karena Menteri Sosial Gus Ipul tetap memaksakan program tanpa evaluasi menyeluruh.
Aktivis pun menilai langkah tersebut berpotensi membuka ruang praktik korupsi.
KAMI Akan Gelar Aksi di Depan Istana Negara
Menanggapi hal ini, Koalisi Aktivis Muda Indonesia (KAMI) mengumumkan rencana aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 12 September 2025.
Dalam aksinya, KAMI akan menyuarakan lima tuntutan rakyat terkait program yang dinilai membebani APBN.
Lima Tuntutan Rakyat dari KAMI
1. Batalkan Program Sekolah Rakyat Kemensos karena dianggap sebagai pemborosan anggaran dengan dana Rp9 triliun pada 2025 dan naik drastis menjadi Rp24,9 triliun pada 2026.
2. Evaluasi dan Tinjau Ulang Program Kemensos yang tidak berorientasi pada kebutuhan rakyat.
3. Audit Anggaran Kemensos 2025 dengan mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera turun tangan.
4. Usut Tuntas Kasus Gus Ipul, termasuk penggunaan anggaran Sekolah Rakyat dan dugaan kasus lama saat menjabat Wakil Gubernur Jawa Timur.
5. Desak Presiden Prabowo Reshuffle Gus Ipul karena dinilai gagal menjalankan program yang pro-rakyat.
Aktivis Ingatkan Presiden Prabowo
Koordinator Nasional KAMI, Novan Ermawan, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk peringatan keras kepada pemerintah agar tidak membiarkan rakyat menjadi korban.
“Lebih baik mencegah daripada membiarkan rakyat menjadi korban. Aksi ini adalah revolusi rakyat untuk mengawal pemerintahan agar tidak menyengsarakan,” tegas Novan.












