Kabar rupiah kembali menyentuh Rp17.600 per dolar AS pada 21 Mei 2026, bukan sekadar berita ekonomi rutin. Angka itu adalah sinyal bahwa tekanan hidup masyarakat biasa kembali bertambah.
Setiap kali dolar menguat, harga barang impor, biaya produksi, hingga cicilan utang luar negeri ikut naik. Pertanyaannya: mengapa setiap gejolak global selalu berakhir pada dompet rakyat?
Kenaikan dolar kali ini dipicu ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. Harga minyak dunia melonjak di atas US$105 per barel, dan investor berbondong-bondong lari ke dolar sebagai aset aman.
Logikanya masuk akal di pasar global. Tapi bagi Indonesia, yang masih menjadi pengimpor minyak besar, peristiwa jauh di Timur Tengah langsung berujung pada pelemahan rupiah.
Cadangan devisa menipis, modal asing keluar, dan defisit APBN menjadi kekhawatiran baru. Artinya, kita terlalu bergantung pada eksternal, baik untuk energi maupun aliran modal.
Ketika dolar naik, importir besar memang tertekan. Tapi yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat biasa.
Barang elektronik, bahan baku UMKM, hingga BBM bisa ikut naik. Inflasi mengintai, daya beli tergerus, dan pelaku usaha kecil harus memutar otak agar tidak gulung tikar.
Ironisnya, pekerja teknis, UMKM, dan konsumen akhir jarang dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan. Mereka hanya menerima konsekuensi. Inilah wajah ekonomi kita, risiko disosialisasikan, keuntungan dinikmati segelintir pihak.
Intervensi BI di pasar spot dan DNDF patut diapresiasi. Tapi menahan rupiah hanya dengan suku bunga tinggi bukan solusi jangka panjang.
Kebijakan moneter bisa menstabilkan nilai tukar, tapi tidak menyelesaikan akar masalah, ketergantungan impor energi dan rapuhnya struktur devisa.
Pemerintah perlu berani mendorong diversifikasi energi, memperkuat industri substitusi impor, dan menjaga kepercayaan investor melalui pengelolaan fiskal yang transparan. Jika tidak, setiap kali dunia bergolak, rupiah akan jadi korban pertama.
Kenaikan dolar seharusnya menjadi alarm, bukan sekadar berita harian. Ini momentum untuk mengevaluasi seberapa tangguh ekonomi kita menghadapi guncangan luar.












