Opini

Peningkatan Keterampilan Sosial melalui Kegiatan Mendongeng Interaktif pada Siswa Kelas III SD Negeri 033912 Huta Gambir, Sidikalang

31
×

Peningkatan Keterampilan Sosial melalui Kegiatan Mendongeng Interaktif pada Siswa Kelas III SD Negeri 033912 Huta Gambir, Sidikalang

Sebarkan artikel ini

Restio Sidebang, S.Pd., M.Pd.¹, Bijak Ginting, S.Sn., M.Hum.², Puza Kharisma Br. Barus³, Tiara Br. Ginting⁴

Pendahuluan

 

Keterampilan sosial merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dikembangkan sejak pendidikan dasar sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Selain berorientasi pada pencapaian akademik, sekolah dasar memiliki tanggung jawab dalam membentuk kemampuan siswa untuk berkomunikasi, bekerja sama, menghargai orang lain, serta menunjukkan sikap empati dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial yang terus berkembang.

 

Pada jenjang sekolah dasar, khususnya kelas III, anak berada pada fase perkembangan sosial yang pesat. Mereka mulai belajar membangun hubungan dengan teman sebaya, mengemukakan pendapat, menyelesaikan konflik, dan bekerja dalam kelompok. Namun, berdasarkan hasil observasi awal di SD Negeri 033912 Huta Gambir, Kecamatan Sidikalang, masih ditemukan berbagai permasalahan terkait keterampilan sosial siswa. Sebagian besar siswa belum percaya diri saat berbicara di depan kelas, kurang aktif dalam diskusi kelompok, serta belum mampu bekerja sama secara optimal dengan teman sekelas. Selain itu, interaksi sosial siswa masih terbatas pada kelompok tertentu sehingga komunikasi antarsiswa belum berkembang secara maksimal.

 

Rendahnya keterampilan sosial tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah proses pembelajaran yang masih didominasi metode ceramah sehingga siswa lebih banyak berperan sebagai pendengar daripada pelaku aktif dalam pembelajaran. Kondisi ini menyebabkan kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan keberanian menyampaikan pendapat menjadi terbatas.

 

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital turut memengaruhi pola interaksi sosial anak. Penggunaan gawai yang semakin intensif membuat sebagian siswa lebih sering berinteraksi melalui media digital dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan teman sebaya. Dampaknya, kemampuan komunikasi interpersonal, empati, dan kerja sama menjadi kurang berkembang. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang mampu menyeimbangkan perkembangan akademik dan sosial peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *