Joko Panjaitan menuturkan, untuk mengantisipasi hal itu generasi muda saat ini perlu dan harus menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kesehariannya. Selalu besikap optimisme dalam menghadapi tantangan hidup.
“Peran orang tua dalam mendampingi masa remaja mereka, masih tetap diperlukan dan jangan sampai berkembang tanpa pengawasan,” pesannya.
Di kesempatan itu Joko Panjaitan juga mengungkapkan bahwa internalisasi Pancasila harus dapat merasuki jiwa generasi muda yang notabanenya penerus bangsa di masa depan.
“Melalui internalisasi ini, generasi muda bisa memiliki filter terhadap ideologi asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa kita,” katanya.
Karena itu, dalam mempersiapkan tongkat estafet bangsa, negara ini membutuhkan anak-anak muda yang mandiri dan unggul dalam segala bidang.
Perilaku hedonisme hanya akan menjerumuskan anak-anak muda dalam perilaku yang menyesatkan. “Untuk itu perlu pengawasan orang tua dalam mengarahkan perilaku mereka agar tidak menyimpang,” jelasnya.
Joko Panjaitan juga menjelaskan, internalisasi Pancasila bisa terbentuk jika kita memiliki rasa kemanusiaan yang merupakan sikap universal untuk mempertahankan martabat manusia.
Karenanya perlu komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya di kehidupan sehari-hari.
Dia juga menegaskan, memperkuat rasa kemanusiaan dalam hidup bermasyarakat adalah hal yang sangat penting demi menciptakan lingkungan yang lebih baik dalam hubungannya dengan sesama manusia dengan sikap yang lebih empatik dan peduli.
“Dengan menerapkan rasa kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih peduli terhadap sesama manusia,” ungkap Joko Panjaitan.
Dirinya mencontohkan, dalam praktiknya, menerapkan rasa kemanusiaan tanpa memandang latar belakang seseorang adalah suatu tindakan yang sangat mulia dan mendasarkan pada prinsip-prinsip kesetaraan, empati, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia.
“Menolong tanpa harus bertanya tentang agamanya apa, sukunya apa, hal itu merupakan tindakan yang menghormati dan mendasarkan pada prinsip kesetaraan serta rasa kemanusiaan. Saat kita membantu seseorang, seharusnya tidak perlu menanyakan agama atau latar belakang mereka. Tindakan baik ini didasarkan pada nilai-nilai universal seperti empati dan toleransi,” pungkasnya.












