TERITORIAL24.COM, BLITAR – Dalam semangat memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Blitar menggelar aksi pembagian bendera Merah Putih kepada masyarakat, Selasa pagi.
Kegiatan ini berlangsung di depan kantor DPC Gerindra Blitar, dan menjadi bagian dari gerakan serentak yang diinisiasi oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra di seluruh Indonesia, Selasa(5/8/2025).
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Di tengah arus informasi yang kerap menimbulkan perpecahan, DPC Gerindra Blitar ingin mengajak masyarakat kembali ke akar: cinta tanah air.
“Apapun isu yang beredar di luar sana, kita harus tetap cinta tanah air. Perjuangan 80 tahun tidak mungkin bisa goyah begitu saja ketika rasa cinta tanah air kita tinggi,” ujar Ratna Dewi Nirwanasari, Wakil Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Blitar, saat ditemui di lokasi kegiatan.
Ratna menegaskan bahwa pembagian bendera ini murni sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dan sebagai upaya membangkitkan nasionalisme, bukan sebagai respons terhadap isu-isu viral, seperti pengibaran bendera non-nasional yang sempat mencuat beberapa waktu lalu.
“Kami ingin selama bulan Agustus ini, masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih penuh selama sebulan sebagai simbol persatuan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang kita nikmati hari ini,” tambahnya.
Sebanyak 500 bendera dibagikan secara langsung kepada warga yang melintas. Meski instruksi dari pusat baru diterima sehari sebelumnya, DPC Gerindra Blitar bergerak cepat mengoordinasikan aksi ini.
Di akhir kegiatan, Ratna menyampaikan harapan agar momentum ini bisa menjadi pemantik persatuan nasional:
“Mari kita jadikan HUT RI ke-80 ini sebagai titik balik mempererat persaudaraan. Dengan semangat Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju, kita songsong masa depan yang lebih cerah.”
Pembagian bendera ini disambut antusias oleh masyarakat. Banyak warga menyatakan kebanggaannya menerima langsung bendera dari perwakilan partai politik, yang menurut mereka jarang turun langsung dalam kegiatan-kegiatan kebangsaan yang sederhana namun bermakna seperti ini.












