Tebing Tinggi - Batu Bara

Ironi Rantau Laban: Pasien Menahan Sakit, Oknum Petugas Menahan Lapar

603
×

Ironi Rantau Laban: Pasien Menahan Sakit, Oknum Petugas Menahan Lapar

Sebarkan artikel ini

Antrean Panjang Tanpa Kepastian Layanan

Sejak pukul 08.00 WIB, para pasien sudah setia menunggu di Jalan Bukit Tempurung demi administrasi rujukan(foto:Agus)

TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI – Menjadi “Rakyat Biasa” pengguna BPJS sepertinya harus memiliki stok kesabaran seluas samudera.

Sabtu pagi (10/01/2026), di UPTD Puskesmas Rantau Laban, nadi pelayanan kesehatan seolah berhenti berdenyut total.

Sejak pukul 08.00 WIB, para pasien sudah setia menunggu di Jalan Bukit Tempurung demi administrasi rujukan. Namun, kursi pelayanan tetap kosong melongpong dengan alasan yang sangat klise: sedang rapat di lantai atas.

Drama “Belum Sarapan” di Ruang Tunggu

Kesabaran warga kembali diuji saat jarum jam hampir menyentuh pukul 09.00 pagi namun belum ada tanda kehidupan.

Seorang oknum pegawai yang muncul di ruang tunggu justru memberikan jawaban yang membuat para pasien tertawa getir.

Saat ditanya kapan pelayanan dimulai, oknum tersebut justru menjawab dengan sangat santai, “Iya nanti, saya belum sarapan.”

Sebuah kejujuran yang terasa sangat menyentil nurani para pasien yang sedang berjuang melawan rasa sakit.

Etika Pelayan Publik di Bawah Meja Makan

Kita tentu sangat menghargai hak perut para ASN yang terhormat untuk makan dan minum sepuasnya.

Namun, sangat tidak elok jika urusan sarapan pribadi harus mengalahkan urgensi pelayanan publik yang sudah dijadwalkan.

Ingatlah, pasien-pasien ini jangankan untuk berpikir soal sarapan, untuk menelan ludah saja mungkin mereka sedang merasa kesulitan.

Mereka adalah pemberi gaji melalui pajak, yang haknya atas layanan kesehatan tidak boleh dikalahkan urusan perut.

Kejadian ini merupakan “sentilan” keras bagi Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi atas kinerja aparaturnya di lapangan.

Masyarakat tidak meminta kesembuhan instan dari tangan petugas, melainkan kepastian layanan yang profesional dan manusiawi.

Jangan biarkan jargon “Pelayan Masyarakat” hanya menjadi hiasan dinding yang berdebu tanpa bukti nyata di ruang tunggu.

Rakyat butuh aksi nyata, bukan alasan klise tentang rapat atau urusan sarapan yang belum juga terselesaikan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *