Deli Serdang - Serdang Bedagai

Kisruh Pemkab Deli Serdang dan Al Washliyah

464
×

Kisruh Pemkab Deli Serdang dan Al Washliyah

Sebarkan artikel ini

Sekretaris PPP Sumut: Harus Saling Menahan Diri!

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Semua pihak, khususnya kader Al Jamiyatul Washliyah dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang sama-sama diminta untuk menahan diri.

Terkait polemik lahan seluas 8.200 meter persegi di Desa Petumbukan, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, yang di atasnya berdiri gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Galang dan eks Puskesmas Petumbukan.

Hal ini juga terkait demo ribuan kader Al Washliyah di Kantor Bupati Deli Serdang, Senin (26/5/2025).

Permintaan agar menahan diri disampaikan Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumatera Utara, Usman Effendi Sitorus.

“Saya mengimbau kedua belah pihak untuk saling menahan diri. Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Jika kita mau duduk bareng, menurunkan sedikit tensi dan mau saling memenpatkan diri pada posisi yang sesungguhnya,” ungkap pria yang akrab disapa Ustor ini.

“Satu sisi, wajar saja jika Al Wasliyah mempertahankan sesuatu yang dianggap sebagai asetnya, begitu juga sebaliknya. Jika Pemkab Deli Serdang menganggap penataan aset pemerintah kabupaten merupakan hal penting. Al Wasliyah punya bukti, Pemkab juga mungkin punya data. Kan tinggal mencocokkan bukti dan data siapa yang paling kuat,” lanjutnya.

Pun begitu, Ustor juga menyarankan kepada Bupati Deli Serdang, dr H Asri Ludin Tambunan, selaku kepala daerah dan pembina keorganisasian masyarakat bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Kan bisa dengan bersilaturahmi ke Penguru Daerah (PD) atau Pengurus Wilayah (PW) Al Wasliyah Sumut, membicarakan permasalahan aset tersebut dengan cara kekeluargaan. Dan jika tidak ketemu, ada kok jalur hukum yang bisa ditempuh,” sarannya.

Ustor juga menyentil, sebagai kepala pemerintahan, tidak lantas main perintah seakan-akan “mentang-mentang” berkuasa.

“Nggak baik itu! Akibatnya seperti sekarang ini. Kan nggak lucu, akhirnya organisasi kemasyarakatan (ormas) terbesar di Sumatera Utara turun ke jalan, hanya dikarenakan setapak tanah yang seharusnya bisa dibicarakan dengan baik-baik,” sentil Ustor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *