TERITORIAL24.COM, MEDAN – Masjid Lama Gang Bengkok merupakan salah satu masjid tertua di Medan yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi.
Berlokasi di Jalan Mesjid No 62, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.
Mesjid ini didirikan pada tahun 1874 oleh saudagar Tionghoa terkemuka, Tjong A Fie, masjid ini menjadi simbol nyata akulturasi budaya Melayu, Tionghoa, dan Persia di Sumatera Utara.
Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lambang toleransi dan harmoni antarumat beragama di kota Medan.
Sejarah dan Latar Belakang
Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf milik Datuk Kesawan, seorang tokoh Melayu yang berpengaruh di kawasan tersebut. Pendirian masjid oleh Tjong A Fie — yang merupakan tokoh penting dalam perkembangan ekonomi dan sosial Kota Medan — menunjukkan eratnya hubungan antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Melayu pada masa itu.
Sebagai seorang non-Muslim, keterlibatan Tjong A Fie dalam pembangunan masjid mencerminkan sikap toleransi dan semangat kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat multikultural Medan pada akhir abad ke-19.
Masjid ini kemudian dikenal dengan nama “Gang Bengkok” karena lokasinya berada di sebuah gang yang jalannya tidak lurus (berbelok).
Akulturasi Arsitektur: Melayu, Tionghoa, dan Persia
Salah satu daya tarik utama Masjid Lama Gang Bengkok adalah arsitekturnya yang unik, memadukan beberapa unsur budaya:
1. Unsur Melayu
Terlihat dari bentuk bangunan utama, warna dominan kuning sebagai simbol kebesaran Melayu, serta ornamen tradisional yang menghiasi bagian luar dan dalam masjid.
2. Unsur Tionghoa
Detail lengkungan dan elemen dekoratif tertentu memperlihatkan sentuhan arsitektur Tionghoa, mencerminkan latar belakang pendirinya.
3. Unsur Persia
Bentuk kubah dan gaya lengkungan pintu serta jendela menunjukkan pengaruh arsitektur Islam khas Timur Tengah, termasuk Persia.
Perpaduan ini menjadikan masjid sebagai contoh nyata harmonisasi budaya dalam satu bangunan religius.
Simbol Toleransi dan Harmoni












