Sejak awal berdirinya, masjid ini telah menjadi simbol toleransi antarumat beragama. Fakta bahwa seorang saudagar Tionghoa membangun masjid di atas tanah wakaf tokoh Melayu memperlihatkan adanya hubungan sosial yang kuat dan saling menghormati di antara berbagai etnis di Medan.
Hingga kini, Masjid Lama Gang Bengkok tetap menjadi saksi sejarah kehidupan masyarakat Medan yang plural dan rukun.
Peran di Masa Kini
Saat ini, masjid masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam. Selain itu, masjid juga menjadi:
Destinasi wisata religi dan sejarah
Objek penelitian budaya dan arsitektur
Simbol identitas multikultural Kota Medan
Banyak pengunjung datang untuk melihat langsung bangunan bersejarah ini sekaligus memahami nilai toleransi yang diwariskannya.
Masjid Lama Gang Bengkok bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan monumen sejarah yang mencerminkan persatuan dalam keberagaman.
Berdiri sejak tahun 1874, masjid ini menjadi bukti bahwa akulturasi budaya Melayu, Tionghoa, dan Persia telah lama tumbuh harmonis di Medan.
Di tengah masyarakat yang majemuk, Masjid Lama Gang Bengkok tetap tegak sebagai simbol perdamaian, kebersamaan, dan toleransi antarumat beragama.(Akbar)












