TERITORIAL24.COM, BLITAR — Di balik senyum lembut bocah inisial MAF, bocah yatim berusia 9 tahun asal Dusun Jagoan, Desa Ponggok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, tersimpan kisah perjuangan yang menggetarkan hati.
Sejak akhir 2024, MAF didiagnosis mengidap leukemia dan kini harus menjalani kemoterapi rutin di RSUD Saiful Anwar Malang.
MAF, yang lahir pada 24 November 2016, kehilangan ayahnya sejak usia dua tahun akibat tumor otak. Sejak itu, ia hidup bersama ibunya, Yuliana Indah Lestari, yang harus berjuang sendiri membesarkannya dalam keterbatasan ekonomi.
Kondisi keluarga yang tidak mampu semakin diuji ketika pertengahan 2024, usai imunisasi rutin, Arrazi mengalami penurunan kesehatan drastis. Setelah pemeriksaan intensif, dokter menyatakan ia mengidap leukemia.
“Awalnya kami pikir hanya demam biasa, tapi lama-lama tidak sembuh-sembuh,” tutur Yuliana.
Kini, setiap beberapa minggu, Yuliana harus membawa Arrazi dari Blitar ke Malang untuk menjalani kemoterapi.
Perjalanan jauh, kondisi fisik Arrazi yang lemah, dan biaya hidup yang makin berat menjadi tantangan harian mereka.
Seluruh pengobatan ditopang oleh BPJS Kesehatan mandiri kelas 3, yang iurannya dibayar sendiri oleh sang ibu.
Melihat kondisi ini, Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kabupaten Blitar menyuarakan keprihatinannya.
Ketua DKR, Arif Witanto, menilai kasus Arrazi mencerminkan lemahnya sistem perlindungan sosial di Indonesia, terutama bagi anak-anak dalam kelompok rentan.
“Arrazi ini yatim, ibunya tidak mampu, tapi masih harus bayar BPJS mandiri. Ini ironi. Negara harus hadir, bukan abai,” tegas Arif dalam pernyataan resminya di Blitar, Selasa (29/4/2025).
DKR mendesak pemerintah segera mengambil langkah nyata, termasuk menyediakan transportasi rutin bagi pasien, mengoptimalkan pelayanan di RSUD, dan mengalihkan status BPJS Arrazi ke Penerima Bantuan Iuran (PBI).
DKR juga mendorong koordinasi lintas dinas untuk bantuan gizi, psikososial, hingga pendampingan medis.
“Kalau pemerintah lambat, masyarakat jangan tinggal diam. Ini saatnya kita tunjukkan solidaritas,” tambah Arif.












