TERITORIAL24.COM, MEDAN – Perang melawan narkoba di Kota Medan sepertinya tidak bisa mengandalkan tembakan dan borgol saja.
Butuh pendekatan yang lebih rumit: menyadarkan masyarakat bahwa bandar narkoba bukan pahlawan bertopeng Robin Hood.
Hal itu disampaikan Kasat Narkoba Polrestabes Medan, AKBP Thommy Aruan, dalam dialog interaktif di Studio RRI Medan, Rabu (6/8/2025), yang mengangkat tema “Upaya Polrestabes Medan dalam Memerangi Peredaran Narkoba”—tema yang sudah sering kita dengar, tapi ternyata masih jauh dari selesai.
Menurut Thommy, sindikat narkoba makin pintar. Mereka main halus, menyusup lewat celah sosial ekonomi.
Alih-alih memakai cara brutal, mereka merekrut warga biasa untuk jadi kurir dengan iming-iming uang cepat. Celakanya, banyak yang tertarik, karena memang hidup kadang lebih kejam dari pasal 114 ayat 2.
“Modus sekarang itu sel terputus. Kurir nggak kenal bandar, semuanya komunikasi lewat aplikasi,” kata Thommy. Iya, bandar zaman sekarang memang lebih melek teknologi dari beberapa guru SD.
Meski begitu, Polrestabes Medan tak tinggal diam. Hampir tiap minggu, mereka menggelar operasi grebek sarang narkoba (GSN) di kawasan yang sudah kayak legenda urban: Jermal, Tembung, Kelambir 5, dan Mencirim. Tapi, seperti biasa, yang bikin susah bukan cuma bandarnya, tapi juga warga.
“Banyak warga yang pasang badan buat bandar. Soalnya, bandar sering berperan kayak Robin Hood. Bagi-bagi sembako, bantu sekolah, atau bayar hajatan warga,” jelas Thommy.
Masalahnya, ini bukan soal kebaikan hati. Ini soal masa depan. Narkoba tetaplah narkoba. Dan generasi yang kena, ya tetap rusak. “Pola pikir ini harus diubah,” tegas Thommy, seolah ingin bilang: semur daging dari bandar itu mungkin enak, tapi masa depan anakmu bisa hancur karenanya.
Untuk pengguna, Polrestabes Medan juga tidak semata-mata main tangkap. Sesuai UU Nomor 35 Tahun 2009, mereka menawarkan opsi rehabilitasi, kecuali kalau si pengguna juga ikut-ikutan jadi bagian dari jaringan.
Akan tetapi sayangnya, kapasitas panti rehab di Medan belum sebanding dengan jumlah pengguna yang tertangkap. Ya, sepertinya fasilitas kita masih kalah dari jumlah masalah.












