TERITORIAL24.COM, BLITAR – Pembangunan jaringan irigasi di Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, menjadi salah satu capaian penting dalam program Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2025.
Proyek ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pertanian terpadu yang juga mencakup pembangunan jalan usaha tani, gudang tembakau, dan dome pengering tembakau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar, Ir. Setiyana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Program DBHCHT di Blitar dimulai dengan rapat evaluasi di Kantor Bupati, ruang Candi Simping. Dari situ, kami bersama Biro Perekonomian Provinsi dan bagian perekonomian Pemkab melakukan kunjungan lapangan. Fokusnya memang di Kecamatan Selopuro karena di sana ada tiga kegiatan utama,” ungkapnya.
Menurut Setiyana, pembangunan jaringan irigasi di Desa Mandesan kini telah rampung dan berfungsi optimal.
“Hanya sempat ada kendala teknis akibat longsor di jalur menuju saluran. Tapi kelompok tani langsung bergotong royong membersihkan, sehingga aliran air sudah kembali normal,” jelasnya.
Selain irigasi, dua proyek lainnya — gudang dan dome pengering tembakau — masih dalam proses penyelesaian dan ditargetkan selesai pada pertengahan Desember 2025.
Keduanya memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hasil panen tembakau Blitar. “Gudang ini akan menjaga kualitas tembakau pascapanen. Semakin lama disimpan dengan cara yang benar, nilai ekonominya justru meningkat,” tambah Setiyana.
Tahun ini, Dinas Pertanian juga memperkenalkan inovasi baru berupa dome pengering tembakau, sistem pengeringan berbasis sirkulasi udara tertutup. Inovasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan pengeringan saat musim hujan.
“Kalau mengandalkan sinar matahari, hasilnya tidak maksimal. Karena itu, dome ini kami desain agar efisien dan bisa digunakan sepanjang tahun,” jelasnya.
Menariknya, dome tersebut bersifat multifungsi. Di luar musim panen, area bawahnya bisa dimanfaatkan untuk persemaian tanaman. “Biasanya petani membuat penutup plastik untuk melindungi bibit, tapi dengan dome, itu tidak perlu lagi. Jadi satu bangunan bisa multifungsi dan ramah lingkungan,” ujarnya.












