“Perkembangan Artificial Intelligence dan ekosistem digital hari ini telah mengubah peta industri media secara fundamental. Pers Indonesia tidak boleh gagap, ragu, atau sekadar menjadi penonton. Melalui PWI Fest 2026, PWI mengambil langkah konkret untuk memastikan pekerja pers kita memiliki kapasitas, keterampilan teknis, dan pemahaman etis yang kuat agar mampu memimpin di era transformasi AI,” tegas Akhmad Munir.
Ia menambahkan, transformasi digital tidak boleh menjauhkan pers dari masyarakat. Karena itu, PWI Fest tidak hanya difokuskan pada pelatihan dan diskusi, tetapi juga menghadirkan ruang interaksi melalui festival UMKM dan hiburan rakyat.
“Transformasi teknologi tidak boleh mencabut pers dari akarnya. Pers yang kuat adalah pers yang tetap relevan dan menyatu dengan rakyat. Karena itu, PWI Fest tidak hanya kita desain sebagai ruang diskusi akademik atau pelatihan redaksi, tetapi juga sebagai ruang terbuka melalui UMKM Festival dan pesta rakyat. Ini adalah bentuk konsolidasi nasional antara masyarakat pers, pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan platform global dalam membangun industri media Indonesia yang independen, adidaya secara ekonomi, serta terus bermanfaat bagi bangsa,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan PWI Fest 2026, PWI berharap mampu memperkuat daya saing insan pers Indonesia dalam menghadapi era kecerdasan buatan sekaligus membangun kolaborasi yang lebih luas antara media, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha demi kemajuan industri pers nasional.(Akbar)












