Kota Medan

Rico Waas: Kota Layak Anak Bukan Gelar, Tapi Amanah yang Berat

486
×

Rico Waas: Kota Layak Anak Bukan Gelar, Tapi Amanah yang Berat

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menyampaikan pernyataan keras.

Ia menolak melihat predikat Kota Layak Anak (KLA) sebagai sekadar penghargaan administratif.

Bagi Rico, label itu adalah amanah besar—yang menuntut kerja nyata, bukan sekadar seremoni.

“Pemko Medan komit menjadikan Medan sebagai Kota Layak Anak. Tapi ini bukan perkara mengejar piagam, ini soal masa depan anak-anak kita,” kata Rico lantang, saat membuka Verifikasi Lapangan Hybrid Evaluasi KLA 2025 di Gedung Serbaguna PKK Kota Medan, Rabu, 14 Mei 2025.

Kehadiran tim verifikator dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) disambut Rico sebagai momen reflektif, bukan sekadar pemeriksaan formalitas.

Di hadapan perwakilan Kementerian via daring dan unsur pemerintah daerah yang hadir fisik, Rico menegaskan: masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Menurutnya, Pemko telah menetapkan Rencana Aksi Daerah KLA 2022–2026, mengeluarkan Perwal No. 6 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, serta membentuk Gugus Tugas KLA.

Tapi, ia tak menampik masih terdapat kekurangan. “Kita harus jujur. Masih banyak yang harus dibenahi,” ujar Rico.

Pemko Medan, kata dia, tak hanya membangun taman ramah anak, tapi juga menyentuh hal-hal yang lebih dalam: sistem pelaporan kekerasan terhadap anak, pendidikan inklusif, hingga evaluasi mandiri sekolah ramah anak dengan enam indikator ketat.

Rico menyebut berbagai inisiatif, seperti koordinasi pencegahan TPPO dan penguatan peran PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat), bukan hanya proyek, tapi bagian dari langkah sistematis membangun kota yang sungguh berpihak pada anak.

“Tapi penghargaan bukan tujuan akhir. Yang utama adalah memastikan anak-anak Medan tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan bermartabat,” ujarnya.

Di ujung pidatonya, Rico Waas melempar ajakan kepada seluruh elemen kota: birokrasi, sekolah, masyarakat, dan dunia usaha. “Jangan lagi menjadikan anak-anak sebagai poster kampanye. Wujudkan kota yang benar-benar melindungi mereka.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *