Kuliner dan Kesehatan

Sakit Gigi Jadi Ancaman Sunyi Kesehatan Nasional: drg. Najib Albana Bongkar Akar Masalah dan Cara Mencegahnya

389
×

Sakit Gigi Jadi Ancaman Sunyi Kesehatan Nasional: drg. Najib Albana Bongkar Akar Masalah dan Cara Mencegahnya

Sebarkan artikel ini

Mengungkap Lingkaran Setan Minimnya Literasi Kesehatan Gigi dan Tantangan Akses Layanan di Indonesia

drg. Najib menekankan bahwa pencegahan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan pengobatan(foto Din/Al)

TERITORIAL24.COM, TEBING TINGGI Di balik senyum masyarakat Indonesia, tersimpan fakta mengejutkan: lebih dari 57% warga usia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi, namun hanya 11,2% yang datang ke dokter gigi.

Data ini menjadi alarm serius bahwa kesehatan gigi masih menjadi ancaman sunyi di tengah masyarakat.

Fenomena ini turut disoroti drg. Najib Albana, praktisi kesehatan gigi di Tebing Tinggi, yang menyebutnya sebagai “lingkaran setan kesehatan gigi” yang sulit diputus bila masyarakat tidak segera meningkatkan literasi kesehatan.

Literasi Gigi Masih Rendah: Masyarakat Baru Berobat Saat Sudah Parah

Menurut drg. Najib, rendahnya kesadaran adalah akar dari banyaknya kasus sakit gigi yang memburuk.

“Kenapa masih banyak orang yang sakit gigi? Salah satunya karena literasi kesehatan gigi masih rendah,” ujarnya,Sabtu(29/11/2025).

Mayoritas masyarakat lebih memilih menahan sakit atau mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa memeriksakan diri.

Mereka baru datang ke dokter ketika:

nyeri tidak tertahankan,

gigi sudah berlubang parah,

gusi membengkak,

hingga infeksi mulai menyebar.

*Banyak orang baru ke dokter kalau sudah sakit parah,” jelasnya.

Padahal, penyakit gigi seperti karies dan radang gusi dapat berdampak pada kesehatan jantung, gula darah, dan sistem tubuh lain jika dibiarkan.

Akses Belum Merata: Fokus Layanan Masih Mengobati, Bukan Mencegah

drg. Najib juga menyoroti masalah struktural layanan kesehatan gigi di Indonesia.

“Akses dokter gigi juga belum merata & layanan masih lebih fokus mengobati ketimbang mencegah,” tegasnya.

Masih ada daerah yang kekurangan tenaga dokter gigi, sementara upaya pencegahan seperti edukasi menyikat gigi, scaling rutin, dan fluoridasi massal belum menjadi program prioritas.

Model pelayanan yang dominan kuratif membuat masyarakat kehilangan akses terhadap informasi dan tindakan pencegahan yang penting.

Pencegahan Lebih Murah: drg. Najib Albana Ajak Masyarakat Ubah Kebiasaan

drg. Najib menekankan bahwa pencegahan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan pengobatan. Ia memberi tiga imbauan utama:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *