Peristiwa

Sepuluh Ribu di Ujung Jalan Anggi

523
×

Sepuluh Ribu di Ujung Jalan Anggi

Sebarkan artikel ini

Ketika Operasi Premanisme Menyentuh Wajah-Wajah yang Terlupakan

TERITORIAL24.COM, SIBOLGA – Sore belum lagi hilang dari Jalan Patuan Anggi, ketika seorang pria paruh baya bersandar di tiang listrik depan Toko Umbaya.

Bajunya lusuh, tangannya menggenggam lembaran ribuan yang tak utuh. Nama inisial HH, 53 tahun, warga Pancuran Kerambil. Hari itu, ia ditangkap petugas Satreskrim Polres Sibolga karena menjadi juru parkir liar.

Bukan senjata tajam atau uang jutaan yang ditemukan di tangannya—hanya Rp 10.000, hasil pungutan parkir dari kendaraan yang tak pernah ia jaga secara sah.

Operasi itu bagian dari Ops Pekat Toba 2025, gelaran rutin yang digelar Polres Sibolga untuk memberantas praktik premanisme dan pungli yang meresahkan.

“Ia tak punya dasar hukum sebagai petugas parkir, tapi tetap menarik uang dari pengendara,” kata Kasat Reskrim Polres Sibolga AKP Rudi S. Panjaitan.

Pelaku dibawa ke Mako Polres, diinterogasi, dibina, dan diminta membuat video pernyataan.

Tegas, ya. Tapi juga menyentuh sisi lain dari wajah kota kecil ini—yang seringkali tak tampak di laporan resmi: bahwa sebagian preman bukanlah penjahat kelas kakap, melainkan sisa-sisa ekonomi yang tak mampu berkompetisi di pasar kerja.

“Kadang saya hanya dapat lima ribu, kadang sepuluh ribu,” aku HH dalam video pembinaan yang tak dipublikasikan.

Sehari-harinya, ia tidur di rumah kontrakan yang nyaris roboh. Istrinya sudah lama pergi. Anaknya bekerja serabutan di kota tetangga. Ia menarik parkir bukan untuk kaya, tapi untuk tetap makan.

Meski demikian, hukum tetap ditegakkan. AKP Rudi memastikan, pendekatan yang digunakan tak hanya represif, tapi juga edukatif. “Kita lakukan pembinaan, bukan sekadar penindakan. Tapi praktik pungli tetap harus dihentikan,” ujarnya.

Masyarakat sekitar mendukung langkah Polres Sibolga. “Kalau nggak ditindak, makin banyak yang ngaku-ngaku juru parkir,” kata Bu Yanti, pemilik toko di dekat lokasi penangkapan.

Tapi di antara dukungan itu, ada juga yang berbisik pelan: “Kadang mereka cuma cari makan, bukan cari masalah.”

Malam mulai jatuh di Kota Sibolga. Jalan Patuan Anggi kembali sepi. Tak ada lagi yang berdiri di pinggir jalan dengan kemeja kusam dan suara lemah meminta “parkirnya, Bang”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *