Religi

Serunya Tradisi Lebaran di Indonesia: Antara Syukur, Kebersamaan, dan Kearifan Lokal

571
×

Serunya Tradisi Lebaran di Indonesia: Antara Syukur, Kebersamaan, dan Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Perang Topat(lombokvibes)

Uniknya, setelah prosesi selesai, ketupat-ketupat yang digunakan akan diperebutkan kembali karena dipercaya membawa kesuburan dan keberkahan dalam panen.

3. Ronjok Sayak – Bengkulu

Di Bengkulu, tradisi Ronjok Sayak menjadi salah satu cara masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Kata “Sayak” merujuk pada batok kelapa, yang menjadi elemen utama dalam tradisi ini.

Ronjok Sayak dilakukan dengan menumpuk batok kelapa kering setinggi satu meter, lalu membakarnya.

Masyarakat Bengkulu percaya bahwa api merupakan penghubung antara manusia dengan leluhur.

Oleh karena itu, selama prosesi pembakaran batok kelapa, doa-doa pun dipanjatkan dengan khidmat.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada malam 1 Syawal setelah salat Isya dan menjadi momen kebersamaan yang mempererat tali silaturahmi antara warga.

4. Binarundak – Sulawesi Utara

Masyarakat Motoboi Besar, Sulawesi Utara, memiliki tradisi khas menyambut Lebaran yang disebut Binarundak. Tradisi ini berupa kegiatan memasak nasi jaha secara bersama-sama.

Nasi jaha adalah hidangan khas yang terbuat dari beras ketan yang dicampur santan dan jahe, kemudian dimasak dalam batang bambu.

Tradisi ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut setelah Idulfitri dan menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi di antara warga.

Selain itu, Binarundak juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan.

5. Festival Meriam Karbit – Kalimantan Barat

Di Kalimantan Barat, Festival Meriam Karbit menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri.

Festival ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut sebelum, saat, dan setelah Lebaran.

Meriam yang digunakan dalam festival ini dibuat dari batang kayu besar yang diisi dengan karbit sebagai bahan bakarnya.

Ketika dinyalakan, meriam akan mengeluarkan suara ledakan keras yang menggema di sepanjang Sungai Kapuas.

Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai historis, karena konon meriam karbit digunakan oleh Sultan Pontianak untuk mengusir hantu kuntilanak yang mengganggu masyarakat pada masa lampau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *