
Menurut Anda Yasser, tradisi kumpul keluarga besar setiap bulan Muharam telah dijalankan sejak masa KH. Jafar di Semarang.
Ruwatan dan makan bersama menjadi simbol pemurnian diri serta penguatan silaturahmi, yang hingga kini masih dijaga ketat oleh keturunannya.
“Kami juga berharap kepada Ketua Partuha Maujana Simalungun (PMS) agar membantu menelusuri jejak silsilah Puang Tongah di Kerajaan Raya Simalungun, demi menyempurnakan catatan sejarah keluarga kami,” kata Yasser.
Rangkaian Acara dan Dukungan Para Tokoh
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Abdi Nuradi, cicit dari Atong Tamam.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari tokoh keluarga dan pembacaan sejarah keluarga oleh tim pelacak silsilah. Budi bertindak sebagai pembawa acara.
Para tokoh keluarga seperti H. Bakar, H. Tamam, dan H. Ramli turut hadir, mewakili keturunan aktif dari KH. Jafar. Adapun keturunan lain seperti Dinah, Imam, dan Dewan masih dalam proses pelacakan oleh tim silsilah keluarga.
Ruslan, salah satu penasehat keluarga, menyampaikan harapannya agar silaturahmi ini tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Tetapi bisa berkembang menjadi program sosial seperti santunan atau bantuan lainnya.
Apresiasi dari Tokoh Masyarakat
Dukungan disampaikan oleh Ketua PMS Kota Tebing Tinggi, Johardin Sinaga, SH, yang mengapresiasi inisiatif pelestarian sejarah keluarga ini.
“KH. Jafar adalah figur besar yang tak hanya menyatukan budaya, tetapi juga mewariskan nilai keislaman.”
“Saya yakin di bawah kepemimpinan Anda Yasser, perkumpulan ini akan menjadi motor kebaikan di masyarakat,” ujarnya.
Tausiyah: Menyatukan Cinta Ilahi dan Kekeluargaan
Acara ditutup dengan tausiyah penuh makna dari Ustadz Ngadiono, S.H.I, alumni Pesantren Gontor dan Sarjana Hukum Islam.
“Silaturahmi adalah perpanjangan tangan rahmat Allah. Dalam bulan Muharam, berkumpul seperti ini adalah bentuk keberkahan yang tidak tergantikan. Kita berbeda wajah, tetapi satu tujuan: Lillahita’ala,” ucapnya.












