TERITORIAL24.COM, BANGKOK – Pemerintah Thailand tak banyak basa-basi. Usai banjir besar menggulung wilayah selatan dan merenggut ratusan nyawa.
Negeri Gajah Putih langsung mengetuk palu: 2 juta Baht atau setara Rp 1 miliar diberikan untuk setiap korban tewas. Tanpa drama, tanpa birokrasi berlapis, tanpa rapat yang tak berkesudahan,Kamis(4/12/2025).
Langkah tegas ini diumumkan sebagai bagian dari paket pemulihan darurat.
Termasuk bantuan bagi warga yang kehilangan rumah, usaha, hingga akses dasar seperti air bersih.
Pemerintah Thailand seolah ingin mengirim sinyal: “Warga kami bukan angka statistik—mereka harus kembali berdiri, sekarang juga.”
Dan benar saja, gelombang pujian datang bukan hanya dari dalam negeri, namun juga dari negara lain yang—jujur saja—masih sering tersandung urusan pencairan dana bencana.
Di Thailand, keluarga korban tak perlu mondar-mandir membawa map tebal berisi fotokopi KTP, KK, surat kematian, surat keterangan RT/RW, hingga cap basah yang kadang hilang entah di mana.
Pemerintah setempat memotong jalur birokrasi, memastikan uang duka sampai sebelum air banjir benar-benar surut.
Kebijakan ini bukan hanya bentuk empati, tapi juga pernyataan keras bahwa pemerintah berdiri paling depan ketika warganya jatuh.
Sementara itu, di beberapa negara tetangga—yah, kita tahu sendiri—masih kerap terjadi antrean panjang bantuan, warga kebingungan mengurus syarat, dan dana cair… entah kapan.
Thailand memberi contoh bahwa negara bisa sigap, manusiawi, dan berani mengambil keputusan cepat tanpa menunggu tekanan publik.***












