Nasional

Info Buat Kementerian PUPR, Jalinsum Serdang Bedagai Banyak Lobang dan Keriting

473
×

Info Buat Kementerian PUPR, Jalinsum Serdang Bedagai Banyak Lobang dan Keriting

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, SERDANG BEDAGAI — Di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur yang kerap digembar-gemborkan pemerintah, sebuah ironi tajam menyembul dari aspal yang mengelupas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Jalan nasional yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi itu kini lebih menyerupai ladang ranjau. Lubang menganga dan aspal yang keriting bukan hanya mengganggu kenyamanan berkendara—tapi juga telah merenggut nyawa.

Jalan ini dibiayai dari kantong rakyat. Pajak yang dipungut dari tiap liter bensin, dari tiap lembar gaji yang dipotong, seharusnya menjelma menjadi fasilitas publik yang aman dan layak.

Tapi harapan itu seperti tercebur ke dalam lubang-lubang jalan yang dalam. Bertahun-tahun, kondisi Jalinsum di sejumlah titik Kabupaten Serdang Bedagai tak kunjung membaik.

Tambal sulam menjadi solusi abadi. Satu lubang ditutup, tiga lagi muncul tak jauh dari sana. Seolah jalan ini punya semacam kutukan yang tak pernah tuntas dibenahi.

“Sudah seperti ini dari dulu. Setiap tahun diperbaiki, setiap tahun rusak lagi,” kata Ismail (45) warga Matapao, yang hampir kehilangan kendali kendaraannya setelah sepeda motornya menghantam lubang dan aspal keriting saat hujan deras bulan lalu di Dusun Darul Aman, Desa Sei Buluh, Kecamatan Teluk Mengkudu, Jumat (4/7/2025).

Beruntung, ia selamat. Tidak demikian dengan pengendara lainnya.

Ada seorang pengendara sepeda motor yang terjungkal di lokasi yang sama karena terpeleset di jalan keriting serta tanpa lampu penerangan jalan.

Meskipun dari amatan media ini perbaikan jalan rutin dilakukan setiap tahun menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun kenyataannya, hasil pekerjaan sering tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Apakah seperti kasus OTT yang mencokok Kadis PUPR Sumut ,TOP, proyek jalan justru menjadi ladang basah bagi praktik mark-up, pemborosan, dan pengawasan yang lemah.

Mungkin dananya besar untuk perbaikan jalan tersebut, tetapi sudah habis “merembes” kemana mana sehingga hasil pekerjaan tak maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *