TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI-Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat, mulai dari rumah, kantor, hingga sekolah.
Namun, Ustadz Muslim mengingatkan agar pemasangan bendera tidak hanya menjadi simbol seremonial atau sekadar hiasan tanpa makna.
Pesan tersebut ia sampaikan saat khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas, Jalan Siantar, Kota Tebing Tinggi.
Menurutnya, makna kemerdekaan harus benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan sekadar jargon politik.
“Kenyataannya, rakyat masih menderita. Harga-harga naik, pajak membebani. Jangan sampai bendera Merah Putih hanya menjadi topeng bagi penguasa zalim,” tegasnya.
Peringatan 17 Agustus dan Makna Spirit Kemerdekaan
Ustadz Muslim menyebut peringatan 17 Agustus adalah momen mengenang perjuangan kemerdekaan yang telah berlangsung selama delapan dekade.
Ia mengutip pesan ulama, Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman), sebagai pengingat pentingnya memerdekakan bangsa dari penderitaan ekonomi, pendidikan, dan sosial.
“Merah Putih adalah simbol perjuangan dan pengorbanan. Merah berarti berani menegakkan hukum dan keadilan, memberantas korupsi, judi, narkoba, dan berbagai bentuk kejahatan,” ujarnya.
Hukum Harus Adil untuk Semua
Dalam khutbahnya, ia menyoroti ketidakadilan hukum di Indonesia. Pejabat yang bersalah kerap bebas, sedangkan rakyat kecil langsung dihukum berat.
Kondisi ini dinilainya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.
Nilai Pancasila dalam Perspektif Islam
Ustadz Muslim mengaitkan lima sila Pancasila dengan ajaran Islam:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa – Sesuai Al-Qur’an surat Al-Ikhlas.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – Islam menjunjung adab, etika, dan moral.
3. Persatuan Indonesia – Sesuai Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103.
4. Kerakyatan dalam Permusyawaratan – Sesuai Al-Qur’an surat Asy-Syura ayat 38.
5. Keadilan Sosial – Sesuai Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8.
Seruan untuk Pemerintah dan Rakyat












