Profil - Sosok

‎Pemuda Jepang Tak Gengsi Kerja Sampingan, Demi Tambah Uang Saku dan Pengalaman ‎

573
×

‎Pemuda Jepang Tak Gengsi Kerja Sampingan, Demi Tambah Uang Saku dan Pengalaman ‎

Sebarkan artikel ini
‎Pemuda di negeri Sakura tidak gengsi untuk mengambil pekerjaan paruh waktu atau part-time job (baito)(foto: Twitter@pencintaproduk)

‎TERITORIAL24.COM,TOKYO– Pernah membayangkan pelajar atau mahasiswa rela bekerja di restoran, minimarket, bahkan kafe setelah pulang sekolah? Itulah pemandangan biasa di Jepang, di mana hampir seluruh pemuda tak gengsi mencari pengalaman lewat pekerjaan sampingan.

‎Fenomena kerja sampingan di Jepang menjadi sorotan publik. Hampir seluruh pemuda di negeri Sakura tidak gengsi untuk mengambil pekerjaan paruh waktu atau part-time job (baito), demi menambah uang saku sekaligus memperkaya pengalaman kerja.

‎Seperti dikutip dari akun @pencintaproduk pada 26 Agustus 2025, budaya kerja keras di Jepang sudah ditanamkan sejak usia muda.

‎Banyak pelajar hingga mahasiswa yang rela bekerja di restoran, kafe, toko, hingga industri makanan.

‎“Di Jepang, hampir seluruh pemuda tidak gengsi melakukan pekerjaan sampingan demi menambah uang saku dan pengalaman kerja,” tulis unggahan tersebut.

‎Budaya Kerja di Jepang

‎Kerja sampingan bagi pemuda Jepang bukan hanya soal tambahan penghasilan. Lebih dari itu, mereka memandangnya sebagai kesempatan melatih tanggung jawab, disiplin, serta membangun relasi sosial.

‎Pekerjaan paruh waktu juga menjadi modal berharga ketika mereka memasuki dunia kerja profesional.

‎Dengan pengalaman tersebut, para pemuda terbiasa menghadapi tekanan, manajemen waktu, hingga keterampilan melayani konsumen.

‎Inspirasi untuk Generasi Muda Indonesia

‎Fenomena ini menuai banyak respons dari warganet Indonesia. Banyak yang mengapresiasi sikap pemuda Jepang yang tidak gengsi bekerja paruh waktu, bahkan di bidang yang sederhana.

‎Sejumlah warganet berharap budaya serupa dapat diterapkan lebih luas di Indonesia, agar generasi muda semakin mandiri, kreatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang kompetitif.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *