TERITORIAL24.COM, SERDANG BEDAGAI– Langit siang itu tampak teduh, namun suasana di Pengadilan Negeri (PN) Serdang Bedagai membara.
Aliansi Ormas Islam Pembela Rakyat Sumatera Utara turun tangan langsung mengawal jalannya sidang kasus “Buah Naga” yang melibatkan tokoh masyarakat,Muhammad Syafi’i,Arbani, dan kawan-kawan,Kamis(13/11/2025).
Mereka datang bukan sekadar menonton. Mereka datang membawa nurani.
Hadir di barisan depan: Ketua Aliansi H. Affan Lubis, Satia Bara Yani, Mas Cahyo, Ustadz Muslim Istiqomah, SSQ, serta Habib Rangkuti.
Keadilan kini sedang diawasi umat, bukan hanya ditulis di buku hukum.
Fakta Sidang: Tak Ada Pemukulan, Tak Ada Bukti
Sidang yang digelar sejak pukul 13.00 WIB itu dihadiri penuh semangat.
Para saksi bergantian memberi keterangan, dan hasilnya—menurut pengacara Tumbur Munthe—sangat terang benderang.
Tuduhan Pasal 170 tentang penganiayaan itu lemah, bahkan nyaris tak berdasar.
> “Agenda sidang hari ini sangat jelas dan menguntungkan bagi klien kami, Bapak Arbani dan kawan-kawan. Dari semua saksi yang dihadirkan, tidak ada satu pun yang menyebutkan terjadi pemukulan. Tidak ada bukti, tidak ada saksi pendukung. Jadi di mana letak pidananya?” tegas Tumbur Munthe di hadapan awak media usai sidang.
“Korban Dipenjara, Pencuri Bebas” – Jeritan Nurani Umat
Ketua Aliansi, H. Affan Lubis, berbicara dengan nada getir tapi tegas. Ia menilai situasi ini bukan sekadar kasus, tapi cermin buram hukum di negeri ini.
> “Miris sekali, korban pencurian justru yang dipenjara, sementara pencurinya bebas berkeliaran. Apakah ini negeri hukum atau negeri kebal hukum? Kita tidak boleh diam. Apalagi yang dituduh ini adalah tokoh kampung, seorang ustadz yang dihormati masyarakat,” ujarnya lantang.
Ia menegaskan, Aliansi Ormas Islam Pembela Rakyat Sumut akan terus mengawal proses ini sampai titik akhir.
> “Kami berdiri atas nama keadilan rakyat kecil. Kami tidak ingin ada satu pun orang dizalimi atau dikriminalisasi. Itu amanat Presiden Prabowo, jangan ada lagi rakyat yang diinjak-injak oleh kekuasaan,” tandasnya, dengan suara yang disambut pekik “Allahu Akbar!” dari massa.












