TERITORIAL24.COM, MEDAN – Setelah banjir dan longsor ikut-ikutan nimbrung merusak dapur warga, Kementerian Pertanian (Kementan) akhirnya turun tangan.
Lahan pertanian hortikultura di Sumatera Utara (Sumut) yang terdampak bencana bakal segera direhabilitasi. Fokus utamanya: kebun cabai, komoditas yang belakangan bikin dompet warga ikut kepedesan.
Total ada sekitar 436,99 hektare tanaman cabai di Sumut yang rusak dan masuk daftar rehabilitasi. Selain itu, ada juga sebagian kecil lahan sayuran yang ikut terdampak. Untuk menambal kerusakan tersebut, Kementan menyiapkan lebih dari 1.800 saset bibit cabai, lengkap dengan bantuan pengolahan lahan.
“Kami bergerak cepat, terutama di wilayah terdampak bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Untuk cabai, total sekitar 440 hektare. Insyaallah, minggu ini sudah clear semuanya,” kata Direktur Sayur dan Tanaman Obat Kementan, M Agung Sanusi, saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025 yang digelar secara virtual dari Jakarta, Senin (15/12/2025).
Pemerintah Provinsi Sumut menyambut rencana ini dengan tangan terbuka. Wakil Gubernur Sumut Surya memastikan pihaknya siap mendukung penuh rehabilitasi lahan hortikultura tersebut. Maklum, selain memulihkan ekonomi petani, langkah ini diharapkan bisa menahan laju harga pangan yang belakangan makin susah diajak kompromi.
“Kita akan memberikan dukungan penuh. Mudah-mudahan lewat kerja sama semua pihak, kenaikan harga komoditas di Sumut bisa kita redam,” ujar Surya dari Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir mengingatkan pemerintah daerah agar tetap kerja ekstra menjaga stabilitas harga, terutama komoditas yang kenaikannya sudah kelewat niat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, kenaikan harga cabai paling tajam di Sumut pada minggu kedua Desember terjadi di Kabupaten Nias.
Di daerah ini, harga cabai melonjak hingga 119,37 persen dibandingkan minggu kedua November. Alias, lebih dari dua kali lipat.












