Nasional

Aceh Tamiang: Lumpur Belum Kering, Janji Mulai Menguap?

447
×

Aceh Tamiang: Lumpur Belum Kering, Janji Mulai Menguap?

Sebarkan artikel ini

Pendidikan di Titik Nadir: Masa Depan yang "Ngos-ngosan" di Bawah Terpal

kondisi pasca-banjir yang masih memprihatinkan(foto:Din/Al)

TERITORIAL24.COM,ACEH TAMIANG-Hampir sebulan pasca-banjir bandang menghajar Aceh Tamiang, aroma lumpur busuk dan sisa kayu gelondongan masih menyengat di hidung warga.

Pertanyaannya: sampai kapan rakyat harus “akrobat” di atas puing-puing sementara birokrasi bergerak selembut siput?

Hingga Senin (22/12/2025), wajah “Bumi Muda Sedia” masih compang-camping. Data menunjukkan 439 sekolah babak belur.

Ironisnya, di saat pejabat mungkin asyik berdiskusi di ruang ber-AC, siswa-siswa kita terpaksa belajar di bawah tenda darurat yang panasnya minta ampun.

Jika pendidikan adalah masa depan, maka masa depan Aceh Tamiang saat ini sedang “ngos-ngosan” di bawah terpal.

Ironi Infrastruktur: Listrik “Biarpet” dan Ekonomi yang Dipaksa Berlari

Di Kecamatan Rantau, warga seolah dipaksa kembali ke zaman batu. Listrik masih sering mati-nyala (lebih banyak matinya).

Beruntung ada Rig Pertamina yang jadi “dewa penolong” darurat, kalau tidak, mungkin warga sudah lupa rasanya melihat lampu pijar di malam hari.

Pasar memang mulai buka, logistik mulai masuk, tapi jangan salah sangka—ini bukan karena bantuan datang secepat kilat,melainkan karena daya tahan rakyat yang memang sudah terlatih menderita.

Warga membersihkan lumpur setebal 30 cm di Kota Lintang dengan keringat sendiri.

Sementara alat berat kabarnya masih “antre” atau mungkin sedang istirahat siang.

Menagih Janji Relokasi: Rakyat Tak Butuh Kajian Tebal

Ada 19.622 rumah yang hancur. Ribuan orang kini tak punya alamat tetap selain “tenda pengungsian”.

Tuntutan relokasi mulai menggema, tapi seperti biasa, jawaban yang diterima seringkali adalah “sedang dikaji”.

“Kami tidak butuh kajian yang tebalnya seberat lumpur di rumah kami, kami butuh kepastian kapan bisa tidur nyenyak tanpa takut tertimbun lagi,” ketus salah satu warga di posko bantuan.

Alarm Krisis Kesehatan: Berpacu dengan Waktu dan Wabah

Bantuan sembako dan genset dari relawan memang terus mengalir, tapi bantuan logistik bukanlah solusi jangka panjang.

Penyakit pasca-banjir mulai menyerang, dan jika posko kesehatan di pedalaman masih sepi petugas, maka bencana ini akan berganti rupa menjadi krisis kesehatan massal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *