Uncategorized

Kecewa Anak Tak Diterima Kerja, Seorang Warga di Deli Serdang Rusak Jalan Antar Desa

360
×

Kecewa Anak Tak Diterima Kerja, Seorang Warga di Deli Serdang Rusak Jalan Antar Desa

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, DELI SERDANG – Kekecewaan rupanya bisa bermetamorfosis jadi palu dan linggis. Itulah yang terjadi di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

Ketika seorang warga merusak jalan cor beton penghubung Desa Bangun Rejo dan Desa Aek Pancur, hanya karena anaknya tak kunjung diterima bekerja di sebuah perusahaan perkebunan.

Jalan yang seharusnya memudahkan mobilitas warga itu justru dipecahkan dan dilubangi sepanjang sekitar 20 meter. Akibatnya, lebar jalan menyempit dan menyisakan lubang memanjang sedalam kurang lebih setengah meter—cukup untuk membuat pengguna jalan waswas, terutama yang membawa kendaraan roda empat.

Dari informasi yang dihimpun wartawan di lokasi, perusakan tersebut diduga dilakukan oleh seorang warga berinisial A alias Gandus bersama anaknya.

Aksi itu disebut-sebut dipicu kekecewaan karena sang anak tak juga mendapat panggilan kerja dari perusahaan kebun di Desa Aek Pancur.

Ironisnya, jalan yang dirusak itu berada tepat di depan rumah pelaku. Padahal, jalan tersebut merupakan salah satu akses alternatif penting bagi warga dua desa.

Meski sudah didatangi aparat desa, hingga kini pelaku belum menunjukkan itikad memperbaiki kerusakan yang dibuatnya sendiri.

Alih-alih berurusan langsung dengan hukum, A justru lebih dulu menerima sanksi sosial.

Para tetangga, bahkan sebagian keluarganya, memilih memutus komunikasi. Mereka tampaknya sepakat bahwa kekecewaan pribadi bukan alasan sah untuk merusak fasilitas umum.

“Saya ini abang iparnya, malu juga lihat kelakuannya. Sudah malas bicara sama dia. Rumah yang ditempati itu dulu tanah bapak saya. Jalan yang dirusak juga dulu bapak saya yang kasih buat jalan masyarakat,” ujar Mujiran (61), salah seorang warga, Selasa sore, 20 Januari 2026.

Meski demikian, hingga kini pemerintah desa belum mengambil langkah tegas.

Pemerintah setempat mengaku masih berupaya menyelesaikan persoalan ini secara persuasif. Sikap ini justru menuai kritik dari warga yang menilai ketidaktegasan pemerintah membuat pelaku tak jera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *