TERITORIAL24.COM, MEDAN – Langit pagi di Medan masih menyisakan teduh ketika ratusan aparatur sipil negara berbaris rapi di halaman Balai Kota Medan, Senin (23/2/2026).
Hari kelima Ramadan 1447 Hijriah itu menjadi panggung perombakan besar birokrasi Pemerintah Kota Medan.
Sebanyak 213 pejabat administrator dan pengawas—eselon III dan IV—resmi dilantik oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas.
Bagi Rico, ini bukan sekadar seremoni rutin mutasi dan promosi. Ia menyebutnya sebagai salah satu pelantikan terbesar sepanjang masa jabatannya. Namun, jumlah bukan pokok soal.
“Ini bukan sekadar mencari jabatan. Kami menempatkan orang-orang yang kami anggap mampu, layak, dan sanggup memikul tanggung jawab ini,” ujarnya di hadapan para pejabat yang baru disumpah.
Ramadan, kata Rico, bukan alasan untuk melambat. Justru sebaliknya. Memasuki tahun kedua kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota H. Zakiyuddin Harahap, ia menginginkan irama kerja yang lebih cepat.
“Saya minta seluruh pejabat yang baru dilantik langsung tancap gas, siap?” serunya. Jawaban serempak—“Siap!”—memantul di antara dinding-dinding tua balai kota.
Tahun Kedua, Tekan Pedal Gas
Di hadapan para camat dan lurah, Rico menitipkan tiga fokus utama: kebersihan lingkungan, pelayanan publik, dan penyelesaian persoalan warga.
Ia menegaskan kembali mantra klasik birokrasi yang kerap diucap namun tak selalu dijalankan: aparatur adalah pelayan masyarakat.
Nada pidatonya kali ini lebih tegas. Tahun kedua, menurut dia, tak boleh diisi dengan adaptasi berkepanjangan.
Mesin birokrasi harus bekerja efektif hingga ke tingkat kewilayahan.
Camat dan lurah diminta responsif terhadap aduan warga, sigap terhadap persoalan sampah, dan tak berjarak dalam pelayanan administrasi.
Di sisi lain, Rico juga menggarisbawahi isu integritas—tema yang kerap menjadi titik rawan dalam setiap mutasi besar. Ia menjamin proses promosi dan rotasi kali ini bersih dari mahar. “Yang saya minta hanya satu, bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat,” katanya.












