Namun peringatan pun disampaikan tanpa tedeng aling-aling. Jabatan, ujar Rico, bukan hak milik. Kepercayaan bisa dicabut sewaktu-waktu. Pelanggaran hukum atau tindakan yang mencoreng citra Pemerintah Kota Medan akan ditindak sesuai aturan.
Penyegaran di Tingkat Kecamatan
Dari 213 nama yang dilantik, sejumlah posisi camat mengalami penyegaran. Yogi Prayoga dipercaya memimpin Kecamatan Medan Denai. Zulfahmi Tarigan ditempatkan di Medan Amplas, Dedi Rustam Alamsyah Nasution di Medan Area, Maswan Harahap di Medan Barat, dan Robby Kurniawan di Medan Belawan.
Nama lain yang ikut bergeser antara lain Gunawan Perangin-angin (Medan Helvetia), Bachtiar Rivai (Medan Johor), M. Andy Syahputra (Medan Kota), serta Noor Alfi Pane (Medan Polonia).
Perombakan ini memberi sinyal bahwa Rico ingin memperkuat lini terdepan pemerintahan—wilayah yang bersentuhan langsung dengan warga.
Tak hanya di kecamatan. dr. Mohd Mukhlis dilantik sebagai Direktur Utama RSUD H. Bachtiar Djafar. Sejumlah posisi strategis di bagian kesejahteraan rakyat, protokol dan komunikasi pimpinan, organisasi, perekonomian, hingga dinas komunikasi dan informatika serta pariwisata turut diisi wajah baru.
Slogan dan Simbol
Menutup pelantikan, Rico kembali menghidupkan slogan yang menjadi penanda duet kepemimpinannya. “Medan Untuk Semua!” serunya lantang.
“Semua untuk Medan!” jawab ratusan pejabat serempak.
Slogan itu bukan sekadar koor penutup acara. Ia adalah simbol ambisi: menjadikan birokrasi lebih inklusif, responsif, dan bersih.
Tantangannya, seperti biasa, terletak pada konsistensi. Tancap gas mudah diucapkan di podium. Yang lebih sulit adalah menjaga laju tetap stabil ketika jalan mulai menanjak.
Ramadan kali ini, setidaknya, menjadi titik tolak. Sebuah penegasan bahwa tahun kedua kepemimpinan Rico-Zaki tak akan diisi dengan ritme lambat.
Mesin birokrasi telah dipanaskan. Kini publik menunggu, seberapa jauh pedal itu benar-benar diinjak.(Anggi)












