TERITORIAL24.COM, BLITAR – Ratusan massa yang tergabung dalam Gerakan masyarakat Blitar (GMB) menjebol paksa portal pembatas di Jalan Puncak Bendungan Lahor, Kabupaten Malang, Sabtu (1/8/2026), setelah kecewa karena tak kunjung ditemui pihak Perum Jasa Tirta (PJT) I.
Aksi tersebut berujung pada dibukanya kembali akses kendaraan roda dua dan roda empat di jalur penghubung Blitar-Malang.
Sebelumnya, PJT I memberlakukan pembatasan kendaraan roda empat dengan alasan Bendungan Lahor merupakan Objek Vital Nasional (Obvitnas).
Kebijakan itu memicu penolakan karena dinilai mengancam aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada jalur tersebut.
Bagi warga Blitar, Jalan Puncak Bendungan Lahor bukan sekadar penghubung antarwilayah, tetapi urat nadi perekonomian. Pedagang, pelaku UMKM, hingga sektor wisata Ngreco bergantung pada akses tersebut untuk menjalankan usaha sehari-hari.
Perwakilan Gerakan Masyarakat Blitar (GMB), Mariono Setyo Budi atau Budi Kempes, menegaskan masyarakat datang untuk berdialog, bukan membuat kerusuhan. Namun, tidak adanya pejabat PJT I yang dapat mengambil keputusan membuat warga kecewa hingga akhirnya membuka paksa portal.
“Kami datang untuk mencari solusi, bukan mencari konflik. Jalan ini menyangkut kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Koordinator aksi, Hadi Wiyono atau Pak Dur, juga meminta pengamanan bendungan tidak dilakukan dengan mengorbankan mata pencaharian warga.
Desakan masyarakat akhirnya membuahkan hasil. PJT I memutuskan kendaraan roda dua dan roda empat tetap diperbolehkan melintas di Jalan Puncak Bendungan Lahor.
Khusus kendaraan roda empat, operasional dibatasi mulai pukul 04.00 WIB hingga 22.00 WIB Di luar jam tersebut portal akan kembali ditutup.
Selain itu, PJT I menerapkan mekanisme tap in Rp1 sebagai sistem registrasi dan identifikasi kendaraan yang keluar masuk kawasan bendungan, bukan sebagai pungutan.
Usai keputusan tersebut diumumkan, arus kendaraan dari arah Blitar maupun Malang kembali normal.
Meski demikian, masyarakat menegaskan akan kembali menggelar aksi jika akses jalan kembali ditutup secara sepihak tanpa melibatkan warga.












