Religi

Budiman di Hadapan Jamaah Sei Rampah: Jangan Tunggu Tua untuk Bertaubat

123
×

Budiman di Hadapan Jamaah Sei Rampah: Jangan Tunggu Tua untuk Bertaubat

Sebarkan artikel ini

Ketua Komisi Dakwah MUI Sergai mengingatkan jamaah bahwa taubat bukan untuk ditunda, karena manusia tidak pernah tahu kapan kesempatan hidup berakhir.

Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupaten Serdang Bedagai, Budiman, S.Pd.I, saat menyampaikan tausiah kepada jamaah perwiritan ibu-ibu di Kecamatan Sei Rampah. Dalam tausiahnya, Budiman mengajak jamaah untuk segera bertaubat kepada Allah SWT dan tidak menunda kesempatan memperbaiki diri(Ist)

TERITORIAL24.COM, SERDANG BEDAGAI– Jangan menunggu usia senja, sakit datang, atau musibah menghampiri untuk kembali kepada Allah SWT. Selagi kesempatan hidup masih diberikan, pintu taubat harus segera diketuk.

Pesan tersebut disampaikan Budiman, S.Pd.I, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Serdang Bedagai, saat menyampaikan tausiah dalam kegiatan perwiritan ibu-ibu di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai.

Mengangkat tema “Perintah Segera Bertaubat kepada Allah SWT”, Budiman mengajak jamaah menjadikan taubat bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sebagai momentum untuk benar-benar memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Jangan Menunda Taubat

Dalam tausiahnya, Budiman mengingatkan bahwa manusia tidak pernah mengetahui kapan batas kehidupannya berakhir.

Karena itu, menunda taubat dengan alasan masih muda, masih sehat, atau merasa masih memiliki banyak waktu merupakan sikap yang perlu dihindari.

“Jangan menunggu tua untuk bertaubat. Jangan menunggu sakit, jangan menunggu mendapat musibah, dan jangan menunggu ajal sudah dekat. Selagi Allah masih memberikan kita umur dan kesempatan, segera kembali kepada-Nya,” ujar Budiman,Senin(2026).

Ia menjelaskan, setiap manusia tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, kesalahan bukan alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Justru, kesadaran atas kesalahan seharusnya menjadi pintu bagi seseorang untuk memperbaiki diri.

Menurutnya, taubat yang sungguh-sungguh tidak berhenti pada ucapan istighfar.

Taubat harus disertai penyesalan atas kesalahan, meninggalkan perbuatan dosa, serta tekad untuk tidak mengulanginya.

Taubat Bukan Menunggu Menjadi Sempurna

Budiman juga mengingatkan jamaah agar tidak memiliki anggapan bahwa seseorang harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian bertaubat.

Sebaliknya, taubat merupakan salah satu jalan untuk memulai perubahan.

“Jangan berkata, ‘Nanti kalau sudah baik saya bertaubat.’ Justru karena kita ingin menjadi lebih baik, maka kita harus segera bertaubat. Jangan biarkan dosa yang terus dilakukan menjadi kebiasaan,” pesannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *