MEDAN I TERITORIAL24.COM — Ada satu pertanyaan yang barangkali sederhana, tetapi sering luput ketika pemerintah sibuk membagikan bantuan sosial: setelah bantuan diterima, lalu apa?
Sebab kalau setiap tahun warga miskin tetap menerima bantuan dengan jumlah yang kurang lebih sama, sementara jumlah warga yang membutuhkan bantuan tidak kunjung berkurang, jangan-jangan yang berjalan baik hanya agenda penyalurannya.
Pertanyaan semacam itu muncul dalam pembahasan perubahan Perda Kota Medan Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan.
Anggota DPRD Kota Medan Afif Abdillah, SE, mengatakan arah perubahan perda tersebut tidak boleh berhenti pada urusan membagikan bansos.
Bantuan sosial tetap dibutuhkan, terutama bagi masyarakat rentan, tetapi seharusnya menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Hal itu disampaikan Afif saat membacakan jawaban pengusul atas pandangan umum fraksi-fraksi DPRD Kota Medan dalam rapat paripurna, Selasa (22/9/2026).
“Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak bantuan yang kita salurkan, tetapi berapa banyak keluarga yang akhirnya mampu hidup mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan,” ujar Afif.
Kalimat ini sebenarnya terdengar sederhana. Tapi kalau benar-benar diterapkan, konsekuensinya lumayan panjang.
Sebab pemerintah tidak cukup lagi mengatakan, “Bantuan sudah disalurkan.” Yang harus ditanya kemudian: penerimanya sekarang bagaimana?
Jangan Sampai yang Selesai Cuma Acara Pelatihannya
Afif juga mendorong agar penanggulangan kemiskinan diarahkan pada pelatihan kerja, kewirausahaan, pemberdayaan UMKM, serta integrasi program lintas perangkat daerah.
Artinya, warga miskin idealnya tidak terus-menerus ditempatkan sebagai penerima bantuan.
Mereka harus punya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan, membuka usaha, meningkatkan pendapatan, dan pada akhirnya berdiri dengan kaki sendiri.
Masalahnya, pelatihan juga punya penyakit klasik: kegiatan selesai, foto bersama selesai, sertifikat dibagikan, lalu peserta pulang.
Setelah itu?
Afif sendiri mengingatkan agar ukuran keberhasilan tidak berhenti pada jumlah peserta pelatihan.












