DELI SERDANG| TERITORIAL24.COM-Gerimis perlahan membasahi kawasan perkemahan di Sibolangit ketika waktu Salat Jumat tiba, Jumat(2/10/2026).
Di antara aktivitas Kembara Kemah Bela Negara DPW PKS Sumut, lebih dari 100 kader pelopor beranjak menuju aula bangunan yang tersedia di lokasi.
Tidak ada masjid besar dengan fasilitas lengkap. Hanya sebuah aula yang dimanfaatkan sebagai tempat ibadah.
Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi kekhusyukan para jamaah yang berkumpul untuk menunaikan kewajiban Salat Jumat.
Gerimis terus turun, tetapi langkah mereka tidak berhenti.
Bagi para kader, perkemahan bukan alasan untuk mengesampingkan kewajiban ibadah.
Justru di tengah padatnya aktivitas Kembara, Salat Jumat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menenangkan hati dan kembali mengingat bahwa setiap aktivitas kehidupan pada akhirnya harus bermuara pada pengabdian kepada Allah SWT.
Khutbah yang Mengingatkan Arti Kesiapan
Di hadapan jamaah, Ust. H. Ahmad Hadian, S.Pd.I., M.AP., yang akrab disapa UHa, bertindak sebagai khatib.
Khutbah yang disampaikannya membawa jamaah pada satu pesan penting: seorang kader dakwah tidak cukup hanya memiliki semangat. Ia harus mempersiapkan dirinya dengan segenap potensi yang dimiliki.
Fisik yang sehat dan kuat perlu dijaga. Ilmu harus terus ditambah. Pengalaman perlu diperbanyak. Keahlian harus diasah. Materi juga perlu dipersiapkan. Dan yang tidak kalah penting, jiwa harus ditempa agar tetap kokoh ketika menghadapi tantangan.
Pesan tersebut dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Anfal ayat 60 tentang perintah mempersiapkan kekuatan.
Ayat itu menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak cukup hanya dengan keberanian.
Ada proses panjang yang harus dilalui untuk mempersiapkan diri sebelum menjalankan sebuah amanah.
Ketika Kemah Menjadi Ruang Menempa Diri
Dari pesan khutbah itu, kegiatan Kembara Kemah Bela Negara mendapatkan makna yang lebih luas.
Perkemahan bukan hanya tentang mendirikan tenda, mengikuti aktivitas lapangan atau menikmati suasana alam Sibolangit.












