MEDAN | TERITORIAL24.COM -Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang melahirkan tanggung jawab, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam perspektif Al-Qur’an, kualitas keimanan tidak hanya tercermin dari hubungan vertikal seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga dari kesediaannya menjalankan tanggung jawab sosial dan membela kebenaran.
Pesan tersebut tergambar kuat dalam penutup Surah Al-Anfal, khususnya ayat 72–75. Setelah membahas berbagai pelajaran dari Perang Badar, Al-Qur’an mengarahkan perhatian umat Islam kepada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana membangun persaudaraan, menegakkan solidaritas, dan membuktikan keimanan melalui tindakan nyata.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 74:
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.”
Ayat ini menegaskan bahwa keimanan yang kokoh memiliki dimensi pengorbanan dan kepedulian. Iman tidak berhenti pada identitas keagamaan, tetapi harus tercermin dalam komitmen menjalankan perintah Allah, memperjuangkan kebaikan, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Iman yang Dibuktikan dengan Pengorbanan
Surah Al-Anfal ayat 74 menyebutkan dua kelompok utama yang memperoleh pengakuan sebagai orang-orang beriman yang sesungguhnya, yakni kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman dan sebagian harta mereka demi mempertahankan keimanan.
Sementara itu, kaum Anshar menerima, melindungi, dan membantu saudara-saudara mereka yang berhijrah ke Madinah.
Keduanya menunjukkan bentuk pengorbanan yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu nilai: mendahulukan kepentingan agama dan persaudaraan daripada kepentingan pribadi.
Frasa “ulaika humul mu’minuna haqqan” mengandung penegasan tentang keimanan yang dibuktikan melalui tindakan.
Keimanan bukan hanya sesuatu yang diyakini dalam hati atau dinyatakan melalui ucapan, tetapi juga harus menghadirkan konsekuensi moral dalam kehidupan.












