Religi

Mukmin Sejati Bukan Sekadar Mengaku Beriman, tetapi Berani Berkorban

141
×

Mukmin Sejati Bukan Sekadar Mengaku Beriman, tetapi Berani Berkorban

Sebarkan artikel ini

Tadabbur Surah Al-Anfal ayat 72–75 mengajarkan bahwa keimanan sejati harus dibuktikan melalui pengorbanan, persaudaraan, solidaritas, kepedulian sosial, dan tanggung jawab dalam menegakkan kebenaran.Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. (Penulis Buku Tadabbur Al-Qur’an)

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., (Penulis Buku Tadabbur Al-Qur’an)

Pengalaman serta jasa para pendahulu patut dihormati, tetapi penghormatan itu tidak boleh berkembang menjadi kesombongan atau sikap menutup kesempatan bagi generasi berikutnya.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, mengambil tanggung jawab, dan memberikan kontribusi bagi kemaslahatan bersama.

Pada bagian akhir ayat 75, Al-Qur’an juga menegaskan kedudukan hubungan kekerabatan dalam ketentuan Allah.

Hal ini berkaitan dengan penataan hukum waris setelah sebelumnya terdapat ikatan saling mewarisi di antara kaum Muhajirin dan Anshar berdasarkan persaudaraan yang dibentuk pada masa awal Islam.

Perubahan tersebut mengajarkan bahwa persaudaraan iman dan hubungan kekerabatan memiliki ranah serta ketentuan masing-masing.

Solidaritas keagamaan harus dijaga, sementara hak-hak keluarga tetap ditunaikan sesuai hukum yang ditetapkan Allah SWT.

Islam tidak mengajarkan persaudaraan yang mengabaikan keadilan, sebagaimana Islam juga tidak membenarkan hubungan keluarga dijadikan alasan untuk mengabaikan ketentuan agama.

Ampunan dan Rezeki Mulia sebagai Balasan

Allah SWT menutup penegasan tentang kaum Muhajirin dan Anshar dalam ayat 74 dengan janji maghfirah dan rizqun karim, yakni ampunan dan rezeki yang mulia.

Ampunan menunjukkan keluasan rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya, sedangkan rezeki yang mulia menunjukkan balasan yang baik dari-Nya.

Para mufasir mengaitkan janji tersebut dengan kemuliaan yang Allah sediakan bagi orang-orang beriman yang memenuhi tuntutan keimanan mereka.

Ayat ini mengingatkan bahwa pengorbanan dalam kebaikan tidak boleh semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan duniawi atau pengakuan manusia.

Seorang mukmin berbuat baik karena kesadaran akan tanggung jawabnya kepada Allah, seraya berharap mendapatkan rida dan balasan dari-Nya.

Dalam kehidupan sosial, prinsip tersebut mendorong tumbuhnya ketulusan. Seseorang tetap membantu meskipun tidak memperoleh pujian, tetap menjaga amanah meskipun tidak diawasi, dan tetap memperjuangkan kebenaran meskipun tidak selalu menguntungkan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *