Religi

Benarkah Ibadah Kita Sudah Benar? Merenungi Teguran Allah dalam Surah Al-Anfal

280
×

Benarkah Ibadah Kita Sudah Benar? Merenungi Teguran Allah dalam Surah Al-Anfal

Sebarkan artikel ini

Tadabbur Al-Qur’an Surah Al-Anfal Ayat 35: Menghidupkan Makna Ibadah, Menjaga Keikhlasan, dan Merawat Kekhusyukan Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.(Penulis Buku Tadabbur Al-Qur’an)

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., mengajak umat Islam merenungi hakikat ibadah melalui Surah Al-Anfal ayat 35, dengan menekankan pentingnya keikhlasan, ketaatan terhadap tuntunan syariat, serta pembentukan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari(Ist)

MEDAN | TERITORIAL24.COM – Ibadah merupakan manifestasi penghambaan manusia kepada Allah Swt. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan oleh setiap Muslim: apakah ibadah yang kita lakukan selama ini benar-benar mencerminkan ketundukan, keikhlasan, dan ketaatan kepada-Nya?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menelaah Surah Al-Anfal ayat 35. Ayat tersebut mengungkap praktik kaum musyrik Quraisy di sekitar Ka’bah yang mereka anggap sebagai bentuk ibadah, tetapi justru mendapat teguran keras dari Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Shalat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS. Al-Anfal: 35).

Ayat ini bukan sekadar catatan sejarah tentang perilaku kaum musyrik pada masa Rasulullah ﷺ. Lebih jauh, ayat tersebut mengandung pelajaran teologis dan moral mengenai hakikat ibadah, pentingnya ketundukan kepada Allah, serta bahaya ketika agama kehilangan substansi dan hanya menyisakan simbol-simbol lahiriah.

Melalui tadabbur ayat ini, umat Islam diajak untuk memahami kembali makna ibadah, meluruskan niat, memperbaiki kualitas penghambaan, dan menjadikan setiap amal sebagai jalan menuju ketakwaan.

Memahami Konteks Historis Surah Al-Anfal Ayat 35

Untuk memahami pesan ayat ini secara proporsional, kita perlu memperhatikan konteks historis dan hubungan ayat tersebut dengan ayat sebelumnya.

Surah Al-Anfal ayat 34 menjelaskan bahwa kaum musyrik menghalangi manusia dari Masjidil Haram. Selanjutnya, ayat 35 mengkritik praktik mereka di sekitar Baitullah yang digambarkan dengan istilah *mukā’an* dan *taṣdiyah*, yakni siulan dan tepuk tangan.

Dalam penjelasan para mufasir, praktik tersebut merupakan perilaku ritual kaum musyrik yang tidak mencerminkan bentuk penghambaan yang benar sebagaimana dituntunkan Allah Swt. Sejumlah riwayat tafsir juga menerangkan adanya perilaku tidak senonoh dalam praktik ritual mereka ketika itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *