TERITORIAL24.COM,JAKARTA – Maskapai penerbangan asal Timur Tengah dan Asia Tenggara menunjukkan performa keuangan yang mengesankan sepanjang tahun fiskal terakhir. Emirates dan Singapore Airlines (SIA) sama-sama mencatat laba jumbo, sementara Garuda Indonesia terus melanjutkan proses pemulihan setelah melewati masa sulit akibat pandemi dan restrukturisasi utang.
Emirates Cetak Rekor Sepanjang Sejarah
Maskapai asal Dubai, Emirates, membukukan laba bersih sebesar AED 17,2 miliar atau sekitar Rp82,8 triliun (kurs Rp4.810 per AED) untuk tahun fiskal 2023–2024 yang berakhir pada 31 Maret 2024.
Angka tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah Emirates, naik 15 persen dibanding tahun sebelumnya.
Keberhasilan Emirates tidak lepas dari pemulihan global di sektor perjalanan, efisiensi operasional, serta strategi pengelolaan SDM berbasis meritokrasi.
Saat ini, mayoritas dari lebih dari 121.000 pegawai Emirates Group merupakan warga negara asing.
“Ini adalah kinerja terbaik dalam sejarah kami. Kami tetap fokus menjalankan strategi jangka panjang sambil sigap merespons tantangan pasar,” kata Ketua dan CEO Emirates Group, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, dikutip dari situs resmi Emirates Group, The Media Office Dubai.
Sebagai bentuk apresiasi, Emirates memberikan bonus kepada seluruh pegawai setara 20 minggu gaji.
Singapore Airlines Perkuat Posisi di Asia Tenggara
Singapore Airlines mencatat laba bersih sebesar S$2,68 miliar atau sekitar Rp31,8 triliun pada tahun fiskal yang sama.
Meski laba operasionalnya turun 37 persen akibat tekanan harga dan kenaikan biaya, total laba tetap mencetak rekor berkat keuntungan dari merger anak usahanya, Vistara, dengan Air India.
Maskapai nasional Singapura ini juga dikenal dengan standar pelayanan kelas dunia dan pelatihan awak kabin yang ketat.
Mayoritas pegawainya berasal dari berbagai negara Asia, menunjukkan pendekatan regional yang kompetitif.
Garuda Indonesia Masih dalam Tahap Pemulihan
Berbeda dengan dua raksasa Asia tersebut, Garuda Indonesia masih fokus pada pemulihan pascapandemi dan restrukturisasi utang.












