TERITORIAL24.COM,ACEH TAMIANG – Deretan angka korban banjir di Aceh Tamiang kembali bertambah, dan situasinya jauh dari kata baik-baik saja.
Hingga Selasa (10/12/2025), tercatat 57 warga meregang nyawa, sementara 23 orang masih hilang entah ke mana.
Angka ini bukan statistik biasa—ini jeritan bencana yang menampar keras kesadaran banyak pihak.
Pengungsian membludak. Lebih dari 262 ribu warga terpaksa angkat kaki dari rumah mereka.
Sementara 36.838 warga memilih bertahan, berjibaku dengan air yang belum sepenuhnya turun.
Rumah Porak-Poranda, Desa Lumpuh Total
Pendataan menunjukkan 2.262 rumah rusak, dengan 780 di antaranya roboh berat. Sekolah pun ikut jadi korban—54 unit rusak, tiga hampir tak bisa dipakai lagi.
Wilayah-wilayah seperti Karang Baru, Rantau, dan Tenggulun kini bagai zona lumpur.
Jalan tertutup balok, jembatan patah, dan beberapa desa seperti “diputus dari peta”.
RSUD Terhantam, Penyakit Mengintai di Pengungsian
RSUD Aceh Tamiang ikut babak belur diterjang banjir. Peralatan medis tergenang, listrik tak stabil, dan layanan kesehatan kelimpungan.
Di pengungsian, penyakit mulai panen korban: ISPA, diare, gatal-gatal, hingga demam.
Minim sanitasi, obat terbatas, dan ribuan warga berebut layanan medis darurat—sebuah potret krisis kesehatan yang tak bisa diabaikan.
Akses Putus: Bantuan Masuk Tergantung Keberanian Tim Evakuasi
Jembatan-jembatan tumbang, jalan terputus, dan distribusi logistik harus melewati jalur yang tak ramah nyali.
Tim SAR, TNI, Polri, dan relawan bergerak dengan perahu karet menembus arus deras.
Beberapa titik bahkan hanya bisa dijangkau dengan keberanian ekstra, bukan sekadar kendaraan.
Akibatnya, proses pencarian korban dan penyaluran bantuan kadang tersendat dan harus berpacu dengan waktu.
Pemerintah Turun Tangan, Tapi Tuntutan Warga Makin Keras
Bantuan dari pusat mulai mengalir: tenda, obat, makanan, selimut, hingga lampu darurat.
Namun skala bencana membuat kebutuhan jauh lebih besar dari yang sudah dikirim.
Di lapangan, suara warga makin keras: “Percepat! Tangani! Jangan biarkan kami menunggu lama!”












