Religi

Belajar Menuntut Ilmu dari Imam Asy-Syafi,i : Jalan Menuju Kemuliaan Dunia dan Akhirat

99
×

Belajar Menuntut Ilmu dari Imam Asy-Syafi,i : Jalan Menuju Kemuliaan Dunia dan Akhirat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. menyampaikan pentingnya meneladani semangat Imam Asy-Syafi'i dalam menuntut ilmu dengan mengedepankan keikhlasan, adab, pengorbanan, dan pengamalan ilmu sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat(Istimewa)

TERITORIAL24.COM – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, memperoleh ilmu pengetahuan menjadi semakin mudah.

Namun, kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan lahirnya generasi yang benar-benar berilmu. Banyak yang mampu mengakses informasi, tetapi belum tentu memahami, menghayati, apalagi mengamalkannya.

Karena itu, meneladani perjalanan hidup Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjadi sangat penting.

Beliau bukan hanya seorang ulama besar dan pendiri mazhab fikih yang diikuti jutaan umat Islam, tetapi juga sosok yang menunjukkan bahwa ilmu harus diperjuangkan dengan keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan adab.

Imam Asy-Syafi’i, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriah dan wafat pada tahun 204 Hijriah.

Beliau dikenal sebagai Nashirus Sunnah, pembela Sunnah Rasulullah ﷺ yang mewariskan pemikiran keislaman hingga terus menjadi rujukan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Sejak usia dini, Imam Asy-Syafi’i telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu.

Beliau menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia sepuluh tahun.

Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah. Ketika tidak mampu membeli kertas, beliau menulis pelajaran di atas pelepah kurma dan tulang-belulang.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa kecintaan terhadap ilmu selalu lahir dari niat yang benar.

Ketika seseorang belajar karena Allah SWT, keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan ujian yang akan menguatkan tekadnya.

Perjalanan Imam Asy-Syafi’i juga memperlihatkan bahwa ilmu membutuhkan pengorbanan.

Ibunya rela menjual harta yang dimiliki agar putranya dapat belajar kepada Imam Malik di Madinah.

Beliau sendiri bekerja keras demi membeli kitab dan memenuhi kebutuhan hidupnya selama menuntut ilmu.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Tidak akan memperoleh ilmu orang yang malu dan orang yang sombong.”

Pesan ini mengingatkan bahwa ilmu hanya akan mendatangi orang yang rendah hati, mau bertanya, bersungguh-sungguh, dan tidak merasa dirinya paling mengetahui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *