Religi

Kesombongan: Menolak Kebenaran dan Meremehkan Manusia

33
×

Kesombongan: Menolak Kebenaran dan Meremehkan Manusia

Sebarkan artikel ini

Khutbah Jumat Ustadz Yanda Hardiyansah mengingatkan bahwa hakikat kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan sesama, sementara kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dari ketakwaan

Ustadz Yanda Hardiyansah, A.Md., S.Pd., menyampaikan khutbah Jumat bertema "Kesombongan: Menolak Kebenaran dan Meremehkan Manusia" di Masjid Jami' Baiturrahim, Kampung Saben, Desa Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai, Jumat (31/7/2026)(Yan)

TERITORIAL24.COM,SERDANG BEDAGAI – Kesombongan bukan sekadar ditunjukkan melalui kemewahan, tingginya jabatan, ataupun melimpahnya harta.

Lebih dari itu, kesombongan adalah ketika seseorang menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.

Pesan inilah yang disampaikan Kepala Sekolah Pesantren Ma’rifatul Hikmah, Ustadz Yanda Hardiyansah, A.Md., S.Pd., dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ Baiturrahim, Kampung Saben, Desa Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai, Jumat (31/7/2026).

Di hadapan jamaah, Ustadz Yanda mengawali khutbahnya dengan mengajak seluruh kaum muslimin untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ketaatan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam khutbahnya, ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

Menurutnya, hadis tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hakikat kesombongan yang sering kali tidak disadari oleh manusia.

“Kesombongan memiliki dua tanda yang sangat jelas. Pertama, menolak kebenaran (بطر الحق). Ketika seseorang telah mengetahui bahwa suatu nasihat, ayat Al-Qur’an, atau hadis Nabi adalah benar, namun ia menolaknya karena gengsi, merasa lebih pintar, atau tidak mau mengakui kesalahan, maka itulah kesombongan,” jelasnya.

Ia melanjutkan, tanda kedua adalah meremehkan manusia (غمط الناس), yakni merasa diri lebih mulia daripada orang lain, menghina yang miskin, merendahkan bawahan, mencela orang yang kurang ilmu, atau memandang rendah seseorang karena latar belakangnya.

Untuk menegaskan pesan tersebut, Ustadz Yanda mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Ia menekankan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah kekayaan, jabatan, keturunan, maupun gelar, melainkan ketakwaan yang tertanam dalam hati dan tercermin dalam amal perbuatan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Yanda juga mengingatkan kisah Iblis yang terusir dari rahmat Allah bukan karena tidak mengenal Allah, tetapi karena kesombongannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *