Religi

Belajar Menuntut Ilmu dari Imam Asy-Syafi,i : Jalan Menuju Kemuliaan Dunia dan Akhirat

105
×

Belajar Menuntut Ilmu dari Imam Asy-Syafi,i : Jalan Menuju Kemuliaan Dunia dan Akhirat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. menyampaikan pentingnya meneladani semangat Imam Asy-Syafi'i dalam menuntut ilmu dengan mengedepankan keikhlasan, adab, pengorbanan, dan pengamalan ilmu sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat(Istimewa)

Selain itu, beliau rela menempuh perjalanan jauh untuk berguru kepada para ulama besar.

Tradisi mencari guru menunjukkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya diperoleh dari membaca buku, tetapi juga melalui adab kepada para pewaris ilmu.

Keistimewaan Imam Asy-Syafi’i bukan hanya pada kekuatan hafalannya. Beliau mampu memadukan hafalan, pemahaman, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, ilmu yang sejati bukan sekadar memenuhi akal, tetapi juga menerangi hati dan membentuk akhlak.

Sebagai seorang mujtahid, Imam Asy-Syafi’i juga mengajarkan pentingnya berpikir berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan metodologi yang benar.

Beliau menyusun kitab Ar-Risalah, yang menjadi fondasi ilmu Ushul Fikih, sekaligus menunjukkan bahwa Islam selalu memiliki jawaban terhadap persoalan zaman tanpa meninggalkan dalil dan adab.

Meski telah menjadi imam besar, beliau tetap dikenal sangat tawadhu’. Ketika ditanya tentang gurunya, Imam Malik, beliau merendahkan dirinya dan mengakui bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah setetes dari lautan ilmu sang guru.

Inilah akhlak seorang alim yang semakin tinggi ilmunya, semakin rendah pula hatinya.

Imam Asy-Syafi’i juga memberi teladan dalam menghargai waktu. Hari-harinya dipenuhi dengan belajar, mengajar, beribadah, dan menulis karya ilmiah yang hingga kini masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam.

Di penghujung hidupnya, beliau meninggalkan sebuah pesan yang sangat berharga, “Apabila kalian menemukan dalam pendapatku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, maka tinggalkan pendapatku.” Pesan ini menunjukkan bahwa seorang ulama sejati selalu menempatkan kebenaran di atas pendapat pribadinya.

Pada akhirnya, perjalanan hidup Imam Asy-Syafi’i mengajarkan bahwa ilmu bukanlah jalan menuju popularitas atau kemuliaan dunia semata, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang melahirkan amal, membentuk akhlak, serta mengantarkan pemiliknya kepada ketakwaan.

Semoga semangat Imam Asy-Syafi’i dalam mencintai ilmu, memuliakan guru, menjaga adab, serta mengamalkan setiap pengetahuan yang dimiliki dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menapaki jalan sebagai pencari ilmu hingga akhir hayat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *