Ia buruh pabrik, bekerja seadanya, mencukupi secukupnya. Dalam diam dan kesederhanaannya, barangkali tersimpan beban yang tak sanggup dibagi.
Kini, yang tertinggal hanya tangis istri dan dua anak yang belum sepenuhnya mengerti mengapa ayah mereka memilih kepergian dengan cara seperti itu.
Duka di Dusun III menjadi pengingat bahwa di balik deretan angka statistik kemiskinan dan ketimpangan, ada wajah-wajah yang menanggungnya, hingga ke batas paling pilu: menyerah pada kehidupan.(Akbar)












