TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI – Harapan warga menikmati udara segar akhir pekan buyar sudah. Pagi Sabtu (3/1), kawasan Bendungan Bajayu,Kelurahan Tambangan ,Kecamatan Padang Hilir, kota Tebing Tinggi justru diselimuti bau busuk menyengat menyerupai bangkai.
Aliran Sungai Padang yang biasanya mengalir tenang berubah keruh kecokelatan, memunculkan kecurigaan kuat akan adanya pencemaran serius.
Yang menarik, sorotan warga tidak hanya tertuju pada kondisi hari ini. Berdasarkan penelusuran dan kasak-kusuk di lapangan, dugaan justru mengarah pada aktivitas yang terjadi sehari sebelumnya, Jumat (2/12025).
Banyak warga meyakini, apa yang tercium hari ini hanyalah dampak lanjutan atau “sisa pesta” pembuangan limbah yang diduga dilakukan pada hari kerja.
Pola ini bukan cerita baru. Warga menilai, ada indikasi oknum pelaku pencemaran sengaja memilih hari Jumat untuk membuang limbah.
Alasannya sederhana namun licik: saat akhir pekan tiba, pengawasan melemah, petugas berkurang, dan limbah sudah terlanjur mengalir jauh—meninggalkan bau, endapan, dan masalah bagi warga di hilir.
“Kalau cuma sekali, mungkin bisa dibilang kebetulan. Tapi kalau polanya berulang, ini sudah seperti skenario,” ujar salah seorang warga Bajayu yang enggan disebutkan namanya.
Unggahan warga di media sosial pun bernada serupa. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk kejahatan lingkungan yang terencana, bukan sekadar kelalaian teknis.
Bagi para pelaku usaha yang merasa aman bermain di balik kalender kerja, warga melontarkan pertanyaan pedas:
Apakah membuang limbah di hari Jumat membuat dosa lingkungan ikut libur di hari Sabtu?
Penghematan biaya pengolahan limbah, termasuk dugaan pengabaian IPAL, mungkin memberi keuntungan finansial. Namun dampaknya dibayar mahal oleh masyarakat: udara beracun, air tercemar, dan rasa keadilan yang tercabik.
Uang bisa menutup mulut sebagian orang, tetapi tidak bisa menutup hidung satu kota.
Peristiwa berulang ini menjadi cermin buram lemahnya pengawasan lingkungan.
Jika masyarakat awam saja mampu membaca pola “Limbah Jumat, Bau Sabtu”, mengapa aparat pengawas seolah kehilangan indra penciuman?












