TERITORIAL24.COM-Dalam dunia bisnis yang penuh dinamika, seorang entrepreneur Muslim memiliki pegangan kuat yang membedakannya dari pelaku usaha lain: ikhtiar dan tawakal.
Dua nilai ini bukan sekadar jargon spiritual, melainkan fondasi utama yang membentuk mindset serta strategi dalam mengarungi dunia usaha.
Ikhtiar: Kerja Keras dengan Cara Halal
Ikhtiar dalam konteks bisnis berarti berusaha seoptimal mungkin dengan kerja keras, perencanaan matang, serta inovasi yang berkesinambungan.
Namun, berbeda dengan prinsip bisnis materialistis, seorang Muslim meyakini bahwa usaha tidak boleh lepas dari koridor halal.
Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menegaskan bahwa seorang Muslim wajib berikhtiar dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia, namun tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Tawakal: Berserah Diri pada Allah
Setelah melakukan usaha maksimal, seorang entrepreneur Muslim diajarkan untuk bertawakal, yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
Tawakal bukan berarti pasif atau menyerah sebelum berjuang, melainkan sikap hati yang tenang menerima hasil setelah segala daya dan upaya dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi, no. 2344)
Hadits ini menunjukkan bahwa tawakal harus disertai usaha, sebagaimana burung tetap berikhtiar mencari makan sebelum Allah mencukupi rezekinya.
Keseimbangan Ikhtiar dan Tawakal
Mindset sukses bagi seorang entrepreneur Muslim lahir dari keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Ikhtiar tanpa tawakal bisa menimbulkan kesombongan, sementara tawakal tanpa ikhtiar hanya akan melahirkan kemalasan.
Pengusaha Muslim Indonesia, Chairul Tanjung, pernah mengatakan:












