Seribu Rupiah dan Soal Kepercayaan
Turun seribu rupiah memang bukan revolusi fiskal. Tapi kebijakan ini seperti isyarat kecil bahwa pemerintah sadar: beban warga itu bukan cuma harga beras dan cicilan, tapi juga hal-hal receh yang terjadi tiap hari.
Masalahnya tinggal satu: konsistensi.
Sebab di kota ini, kebijakan sering terdengar manis di konferensi pers, tapi pahit di lapangan. QRIS bisa saja ada, tapi kalau tetap diminta tunai tanpa pilihan, ya sama saja. Tarif bisa turun di atas kertas, tapi kalau praktiknya beda, masyarakat tetap yang jadi wasit sekaligus korban.
Kalau Pemko serius mengawal ini—satgasnya jalan, jukirnya terdata, pelatihannya rutin, penindakannya tegas—maka seribu rupiah itu bukan sekadar potongan tarif. Tapi simbol pembenahan.
Dan bagi warga Medan, yang tiap hari akrab dengan klakson, macet, dan abang parkir, sistem yang tertib mungkin lebih berharga dari sekadar kembalian receh.
Sekarang tinggal kita lihat: ini cuma parkir sementara, atau benar-benar langkah menuju sistem yang lebih waras?(Anggi)












