BLITAR | TERITORIAL24.COM —– Antusiasme masyarakat terlihat begitu kuat dalam prosesi jamasan atau penyucian pusaka Gong Kyai Pradah di Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Kamis (27/8/2026).
Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan langsung ritual budaya yang digelar setiap tahun pada bulan Maulid Nabi atau Rabiulawal.
Sebelum prosesi utama dimulai, Gong Kyai Pradah terlebih dahulu diarak menuju lokasi jamasan. Pusaka tersebut diiringi prajurit dan cucuk lampah, sehingga semakin menambah kemeriahan suasana. Warga tampak antusias mengikuti setiap rangkaian prosesi, bahkan rela berdesakan demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan ritual dari dekat.
Momen yang paling menarik perhatian masyarakat terjadi setelah gong selesai dimandikan menggunakan air bunga.
Air bekas basuhan Gong Kyai Pradah langsung menjadi rebutan warga. Mereka berusaha mendapatkan air yang dipercaya memiliki nilai keberkahan.
Tak hanya air bekas jamasan, gunungan hasil bumi yang menjadi bagian dari rangkaian tradisi juga diperebutkan masyarakat.
Suasana pun semakin ramai ketika warga berbondong-bondong mendekati sumber air dan gunungan untuk mendapatkan bagian.
Bupati Blitar Rijanto mengatakan, Jamasan Gong Kyai Pradah merupakan tradisi budaya adiluhung yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Lodoyo.
Tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga sarat sejarah, spiritualitas dan kearifan lokal.
“Jamasan ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, mengenang penyebaran Islam, serta memohon keselamatan dan kerukunan warga. Gong Kyai Pradah juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda,” ungkap Rijanto.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, Jamasan Gong Kyai Pradah juga mampu menggerakkan perekonomian warga melalui pasar rakyat, pementasan seni hingga parade jaranan.
Tradisi tahunan ini pun tidak hanya menarik perhatian warga Blitar. Masyarakat dari berbagai daerah turut datang untuk menyaksikan langsung prosesi sakral tersebut, sekaligus merasakan kemeriahan tradisi budaya yang menjadi salah satu identitas Kabupaten Blitar.












