Advertorial

Jangan Ekstrem, Nanti Menjilat Ludah Sendiri

229
×

Jangan Ekstrem, Nanti Menjilat Ludah Sendiri

Sebarkan artikel ini

Oleh : Jufri

Ketua Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi,Jufri

TERITORIAL24.COM – Dalam dinamika politik dan kekuasaan, kita sering menyaksikan perubahan sikap yang terasa begitu kontras.

Dulu ada yang menyebut Joko Widodo “kurang gizi”, namun belakangan justru menjadi juru bicaranya.

Ada pula yang dengan penuh keyakinan berkata, jika Prabowo Subianto menjadi Presiden, detik itu juga ia akan menjadi oposisi.

Bahkan dengan retorika keras ia pernah berujar, “Lalat yang berkumpul dekat kotoran lebih mulia daripada ulama yang berkumpul dekat penguasa.”

Namun waktu berjalan. Kekuasaan berganti tangan. Dan orang yang dulu lantang berseberangan itu, tiba-tiba duduk dalam barisan pemerintahan.

Ada pula sekelompok anak muda yang dulu menyematkan label “pembohong” dan bahkan memberi “award” sindiran, tetapi kemudian ikut bergabung ketika pintu kekuasaan terbuka.

Fenomena seperti ini bukan hal baru. Politik memang ruang yang dinamis. Koalisi bisa berubah. Sikap bisa bergeser. Perspektif bisa berkembang.

Tetapi yang menjadi persoalan bukan semata perubahan sikapnya—melainkan cara perubahan itu terjadi dan bagaimana ia dipertanggungjawabkan secara etis.

Perubahan tanpa penjelasan adalah kebingungan.

Perubahan tanpa pengakuan adalah pengingkaran.

Perubahan tanpa etika adalah oportunisme.

Kita semua berhak mengubah pandangan. Bahkan dalam tradisi intelektual, perubahan pendapat adalah tanda kedewasaan berpikir. Namun perubahan itu harus disertai kejujuran moral.

Jika dulu terlalu keras mencaci, maka hari ini perlu keberanian untuk mengakui bahwa ucapan itu berlebihan.

Jika dulu terlalu memuja, maka hari ini perlu kebesaran jiwa untuk tidak merasa dikhianati ketika realitas tak seindah harapan.

Sikap ekstrem—baik dalam mencintai maupun membenci—selalu menyimpan bahaya.

Ekstrem dalam mencintai membuat kita menutup mata dari kesalahan. Ekstrem dalam membenci membuat kita menutup pintu kebaikan. Keduanya sama-sama menghilangkan objektivitas.

Dalam konteks komunikasi publik, apalagi di era media sosial yang jejak digitalnya abadi, setiap kata adalah rekaman sejarah. Orang bisa lupa, tetapi internet tidak. Di sinilah pentingnya etika komunikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *